Kisah Gus Wildan di Malang, Hampir 400 Pekan Santuni Anak Yatim Meski Mengaku Bukan Orang Kaya

Sekilasmalang.com– Setiap Minggu pagi, halaman Pondok Pesantren Darusalam di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, tampak lebih ramai dari biasanya. Puluhan anak yatim datang satu per satu, duduk berbaris, lalu mengikuti doa bersama dan pembacaan salawat.

Mereka datang untuk mengikuti Majelis Cinta Rosulullah (MCR), sebuah kegiatan santunan anak yatim yang digagas oleh pengasuh Pondok Pesantren Darusalam, Ahmad Faiz Wildan atau yang akrab disapa Gus Wildan.

Bagi sebagian orang, kegiatan sosial yang rutin digelar selama bertahun-tahun identik dengan sosok dermawan dari kalangan berada. Namun, Gus Wildan justru menepis anggapan tersebut.

“Alhamdulillah, sampai hari ini santunan anak yatim masih terus berjalan. Tapi saya perlu sampaikan, saya ini bukan orang kaya, bukan juga golongan crazy rich,” kata Gus Wildan saat ditemui di Pondok Pesantren Darusalam, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, keberlangsungan kegiatan santunan bukan berasal dari kekayaan pribadi, melainkan dari semangat gotong royong dan kepercayaan masyarakat yang menitipkan sebagian rezekinya untuk anak-anak yatim.

“Santunan ini bisa terus berjalan karena ada banyak orang baik. Ada jamaah, donatur, dan masyarakat yang ikut peduli. Saya hanya menjadi perantara untuk menyampaikan amanah mereka kepada anak-anak yatim,” ujarnya.

Kegiatan yang digelar setiap Minggu tersebut kini telah berlangsung hampir 400 kali pertemuan secara berturut-turut. Angka itu menjadi bukti konsistensi sebuah gerakan sosial yang dibangun dari kepedulian, bukan dari kemewahan.

Gus Wildan mengaku, salah satu alasan dirinya mempertahankan program ini adalah karena anak-anak yatim membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang berkelanjutan.

Di hadapan anak-anak yatim, ia kerap menyampaikan pesan yang sederhana, namun menyentuh.

“Jangan khawatir ya nak, orang tuamu banyak. Semua sayang kepadamu,” tutur Gus Wildan.

Menurutnya, anak-anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga membutuhkan penguatan mental dan rasa bahwa mereka tidak sendiri.

“Mereka harus merasa memiliki keluarga besar yang mencintai dan memperhatikan mereka. Jangan sampai mereka tumbuh dengan perasaan kehilangan kasih sayang. Karena itu, setiap pertemuan tidak hanya berisi santunan, tetapi juga doa, salawat, dan kebersamaan,” katanya.

Ia menjelaskan, nama Majelis Cinta Rosulullah (MCR) dipilih karena ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus menanamkan kepedulian terhadap sesama.

“Kami ingin mengajarkan bahwa mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian kepada anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan,” ujar Gus Wildan.

Bagi warga Kecamatan Sumberpucung, Majelis Cinta Rosulullah kini telah menjadi simbol gerakan sosial-keagamaan yang penuh ketulusan. Konsistensi selama hampir 400 pekan membuktikan bahwa berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya.

Melalui MCR, Gus Wildan menunjukkan bahwa kepedulian, keikhlasan, dan semangat gotong royong dapat menghadirkan harapan baru bagi puluhan anak yatim di Kabupaten Malang.

Profil Singkat

  • Nama: Ahmad Faiz Wildan
  • Sapaan: Gus Wildan
  • Jabatan: Pengasuh Pondok Pesantren Darusalam
  • Lokasi: Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang
  • Program Sosial: Majelis Cinta Rosulullah (MCR)
  • Kegiatan: Santunan anak yatim rutin setiap Minggu, hampir 400 kali pertemuan berturut-turut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *