MALANG, — Kabar tentang gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ikut dirasakan mahasiswa asal daerah tersebut yang sedang menempuh pendidikan di Malang Raya.
Di tengah situasi itu, sebuah program sosial yang telah berjalan selama bertahun-tahun di Malang kini membuka akses bagi mereka.
Komunitas Sedekah Subuh Malang menyediakan makan gratis bagi mahasiswa asal NTT yang terdampak secara ekonomi akibat bencana di kampung halaman.
Ketua Komunitas Sedekah Subuh Malang, Teguh Rendra SB, mengatakan program tersebut pada dasarnya memang tidak membatasi penerima berdasarkan latar belakang tertentu.
“Program Makan Gratis ini terbuka untuk siapa saja. Termasuk saat ini juga terbuka dengan lapang dada untuk mahasiswa NTT yang kuliah di Malang terdampak gempa tersebut,” kata Teguh, Rabu (19/8/2026).
Program makan gratis itu bukan kegiatan baru. Komunitas Sedekah Subuh telah menjalankannya sejak 2016.
Setiap hari, sekitar 200 porsi makanan disiapkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Layanan tersedia Senin hingga Sabtu mulai pukul 10.00 WIB sampai makanan habis. Khusus Jumat, layanan dimulai lebih pagi, yakni pukul 09.00 WIB.
Mahasiswa NTT yang membutuhkan bantuan tersebut tidak perlu melakukan pendaftaran khusus. Mereka cukup datang ke Warung Gratis Sedekah Subuh.
Bantuan yang Menyentuh Kebutuhan Sehari-hari
Bencana di kampung halaman dapat menghadirkan persoalan yang berbeda bagi mahasiswa perantauan. Selain kecemasan mengenai keluarga, kondisi ekonomi orang tua juga dapat berubah ketika aktivitas pekerjaan dan distribusi kebutuhan di daerah terdampak terganggu.
Dalam kondisi seperti itu, bantuan untuk kebutuhan sehari-hari di tempat perantauan menjadi salah satu bentuk dukungan yang bisa langsung dirasakan.
Program makan gratis tersebut hadir pada kebutuhan paling sederhana: memastikan mahasiswa yang sedang menghadapi situasi sulit tetap dapat memperoleh makanan tanpa harus menambah pengeluaran.
Gerakan semacam ini juga menunjukkan bahwa respons kemanusiaan terhadap bencana tidak selalu harus dilakukan langsung di daerah terdampak.
Dukungan dapat muncul dari kota lain, termasuk dari komunitas yang memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan wilayah bencana.
Solidaritas dari Malang
Respons terhadap gempa Flores juga mulai terlihat melalui berbagai kegiatan sosial di Malang Raya. Sejumlah komunitas dan kelompok masyarakat turut menggalang kepedulian untuk membantu masyarakat terdampak.
Bagi mahasiswa asal NTT, dukungan tersebut memiliki arti tersendiri. Mereka berada jauh dari keluarga ketika kabar mengenai kondisi kampung halaman datang silih berganti.
Program makan gratis menjadi salah satu bentuk solidaritas yang dapat membantu mereka melewati masa sulit selama berada di perantauan.
Komunitas Sedekah Subuh sendiri sebelumnya pernah memberikan dukungan serupa kepada mahasiswa asal Aceh ketika bencana banjir bandang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa ruang solidaritas di Malang dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat.
Kini, ketika gempa kembali membawa kabar duka dari NTT, program yang sama kembali membuka pintu bagi mahasiswa perantau. *rj)
