KEPANJEN, MALANG — Aksi penggalangan dana yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Malang untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak semata-mata diarahkan untuk menghimpun bantuan finansial.
Koordinator Lapangan, Zulfahmi Fikar, memaknai kegiatan tersebut sebagai bagian dari solidaritas sosial sekaligus upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap persoalan kebencanaan.
“Orientasi kegiatan ini bukan hanya pada pengumpulan sumber daya finansial, tetapi juga menjadi bagian dari edukasi publik untuk memperkuat solidaritas sosial dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap persoalan kebencanaan,” ujar Zulfahmi, Rabu (19/8/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aksi yang digelar di salah satu persimpangan di Kepanjen itu ditempatkan sebagai ruang perjumpaan antara gerakan mahasiswa dan kepedulian masyarakat.
Selama tiga jam pelaksanaan, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, aksi tersebut berhasil menghimpun dana sebesar Rp1,5 juta.
Penggalangan dana masih akan dilanjutkan hingga 21 Agustus 2026.
Zulfahmi menyebut hasil penggalangan dana nantinya akan diarahkan untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana sekaligus mendukung pemulihan psikososial para penyintas.
“Seluruh hasil perolehan akan disalurkan secara akuntabel untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar serta memberikan dukungan terhadap pemulihan psikososial penyintas bencana di Flores,” katanya.
Solidaritas Tidak Berhenti di Persimpangan Jalan
Aksi tersebut memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat digunakan mahasiswa untuk membangun kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi jauh dari Kabupaten Malang.
Dengan masih berlangsungnya penggalangan hingga 21 Agustus, capaian Rp1,5 juta pada hari pertama bukan menjadi angka akhir. Dana tersebut merupakan bagian awal dari rangkaian solidaritas yang masih terus dibangun.
Bagi HMI Kabupaten Malang, keberlanjutan aksi menjadi penting agar perhatian terhadap korban bencana tidak berhenti setelah pemberitaan mengenai gempa mereda.
Dalam konteks tersebut, penggalangan dana menjadi lebih dari sekadar aktivitas mengumpulkan uang.
Ia menjadi medium bagi mahasiswa untuk mengajak masyarakat mengambil bagian dalam respons kemanusiaan, sekaligus mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
Zulfahmi menegaskan bahwa proses penggalangan dan penyaluran bantuan akan dilakukan dengan mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.Reporter: (aln)
