MALANG — Telah terbit sebuah karya ilmiah membanggakan dari putra-putri Kota Pendidikan. Tim peneliti Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang resmi mempublikasikan hasil penelitian inovatif yang mengangkat potensi daun sengon (Albizia chinensis) sebagai pakan alami ramah lingkungan untuk ternak ruminansia.
Penelitian berjudul “Comparative In Vitro Analysis of Protozoan Genus Responses to Antiprotozoal Agents from Extracts, Albizia chinensis Leaf Flour, and Commercial Saponin” ini merupakan buah karya Ahmad Ulul Bisri Husni, Hartutik, dan Muhammad Halim Natsir dari Fakultas Peternakan UB, Malang.
Karya tersebut telah dimuat dalam BIO Web of Conferences Volume 218 (2026), sebuah prosiding internasional yang diterbitkan EDP Sciences, dan terbit secara online pada 10 Februari 2026. Publikasi ini menjadi bagian dari The 12th International Conference of Innovation in Animal Science (ICIAS 2025) yang mengusung tema besar keseimbangan antara produktivitas, kesejahteraan hewan, dan integritas lingkungan sesuai agenda SDGs.
Mengangkat Kekayaan Hayati Lokal
Penelitian ini membandingkan tiga bahan antiprotozoa — ekstrak daun sengon, tepung kasar daun sengon, dan saponin komersial — untuk menekan populasi protozoa dalam rumen (lambung) kambing Peranakan Etawa. Uji dilakukan secara in vitro dengan memanfaatkan teknologi sekuensing DNA modern Oxford Nanopore untuk mengidentifikasi genus protozoa yang terpengaruh.
Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pengolahan bahan sangat menentukan efektivitasnya. Saponin komersial memberikan penghambatan paling kuat dan luas, bahkan mengeliminasi genus seperti Entamoeba dan Isotricha. Sementara itu, ekstrak daun sengon bekerja lebih selektif, dan tepung kasarnya memberi efek lebih ringan namun menyeluruh berkat sinergi saponin, flavonoid, dan serat.
Kontribusi bagi Peternakan Berkelanjutan
Temuan ini membuka peluang daun sengon sebagai alternatif pakan nabati berkelanjutan yang tak hanya menyehatkan pencernaan ternak, tetapi juga membantu mengurangi emisi gas metana dari sektor peternakan.
Sebuah kontribusi nyata dari akademisi Malang untuk dunia peternakan yang lebih hijau.
