Ngopini – Saya menghormati pernyataan Saudara Muhaimin Iskandar yang mengajak warga NU melakukan evaluasi terhadap kondisi Nahdlatul Ulama.
Kritik terhadap organisasi sebesar NU adalah sesuatu yang wajar dan bahkan diperlukan, karena tidak ada organisasi yang boleh kebal terhadap evaluasi.
Namun, sebagai Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Malang sekaligus seseorang yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama, saya berpandangan bahwa evaluasi terhadap NU harus dilakukan secara objektif, berbasis data, dan tidak terjebak pada identitas organisasi kemahasiswaan seseorang.
Jika NU disebut mengalami keterpurukan, maka mari kita ukur bersama: apa indikatornya? Apakah persoalan kaderisasi, tata kelola organisasi, pendidikan, ekonomi warga NU, konflik internal, independensi organisasi, atau persoalan lainnya?
Jangan sampai persoalan sebesar NU disederhanakan menjadi persoalan apakah pemimpinnya alumni HMI, PMII, atau organisasi lainnya.Latar belakang organisasi seseorang tidak otomatis menentukan kualitas kepemimpinannya. Yang seharusnya kita nilai adalah kapasitas, integritas, kebijakan, rekam jejak, keberpihakan kepada umat, serta dampak nyata kepemimpinannya.Saya juga tidak ingin HMI merespons pernyataan ini dengan sentimen anti-PMII atau anti-NU. HMI dan PMII bukan musuh. Keduanya lahir dari tradisi intelektual dan keumatan yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Sebagai kader HMI yang memiliki akar kultural Nahdlatul Ulama, saya justru ingin mengajak kita semua keluar dari rivalitas identitas.Mari kita pertarungkan gagasan, bukan mempertentangkan jaket organisasi.
Jika NU memiliki persoalan, mari kita evaluasi.Jika kepemimpinan NU memiliki kekurangan, mari kita kritik.Jika ada kebijakan yang keliru, mari kita koreksi.
Tetapi semuanya harus dilakukan dengan data, argumentasi dan niat memperbaiki, bukan dengan mencari kambing hitam berdasarkan latar belakang organisasi seseorang.
Bagi saya, NU terlalu besar untuk dimiliki oleh kepentingan politik tertentu, dan HMI terlalu dewasa untuk merespons kritik dengan kemarahan identitas.
NU adalah bagian penting dari sejarah keumatan dan kebangsaan Indonesia. HMI adalah bagian dari sejarah intelektual dan perjuangan bangsa.Keduanya tidak perlu dipertentangkan.Yang kita perlukan hari ini bukan perang HMI versus PMII.
Yang kita perlukan adalah perang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan kemunduran berpikir.Mari kita jaga persaudaraan, dengan tidak mematikan daya kritis.Berbeda organisasi tidak berarti berbeda tujuan: kemajuan umat, keadilan sosial, dan kepentingan keindonesiaan harus tetap di kedepankan.
Oleh : Fahmi AzizKetua UmumHMI Cabang Kabupaten Malang
