Sekilasmalang.com – Suara mesin sepeda motor Honda Supra Fit itu menjadi teman setia hampir setiap hari. Dari Kecamatan Wajak menuju Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, perjalanan ditempuh untuk satu tujuan sederhana: mengajar.
Di balik kemudi motor itulah, KH Muhammad Taufik menapaki jalan pengabdian sebagai seorang guru di SMK Cedika Bangsa. Tidak ada kemewahan yang menyertai langkahnya. Yang ada hanyalah semangat untuk mendidik dan keyakinan bahwa ilmu harus terus disampaikan, apa pun keadaan yang dimiliki.
Tidak banyak orang mengetahui bahwa perjalanan sederhana tersebut kelak menjadi bagian dari kisah lahirnya sebuah metode pembelajaran Al-Qur’an yang kini dikenal luas, yaitu Metode An-Nashr Terjemah Al-Qur’an.
KH Muhammad Taufik lahir di Kabupaten Malang pada 4 Februari 1974. Sejak muda, kehidupannya tidak jauh dari dunia pendidikan dan pesantren. Selama enam tahun beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Huda, sebelum melanjutkan pendidikan di STAI Raden Rahmat Malang pada Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Perjalanan hidup membawanya merantau ke Jakarta pada 1993 untuk bekerja. Namun, kesibukan mencari nafkah tidak pernah mengurangi kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Setelah menikah dengan Vita Mutoharoh pada 1996, beliau tetap menyempatkan diri mengajar mengaji setiap kali memiliki kesempatan.
Di ruang-ruang belajar itulah beliau melihat kenyataan yang terus berulang. Banyak orang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi belum memahami makna ayat yang mereka lantunkan. Ayat-ayat suci dibaca setiap hari, tetapi pesan yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya dipahami.
Kegelisahan itu tidak berhenti sebagai pertanyaan. Ia berubah menjadi ikhtiar.
Sejak 1999, KH Muhammad Taufik mulai meneliti berbagai cara agar masyarakat lebih mudah memahami Al-Qur’an. Berbagai kitab, kamus kosakata Al-Qur’an, hingga referensi ulumul Qur’an dipelajari. Proses itu berlangsung bertahun-tahun. Tidak sedikit waktu yang dihabiskan untuk menyusun pola pembelajaran yang sederhana, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki dasar ilmiah.
Baginya, memahami Al-Qur’an tidak boleh menjadi sesuatu yang terasa sulit bagi umat Islam.
Kerja keras tersebut mulai menunjukkan hasil pada 2004. Sebuah metode pembelajaran yang kemudian diberi nama An-Nashr diuji kepada tujuh peserta didik dengan latar belakang usia yang berbeda. Melalui pengulangan kosakata Al-Qur’an yang paling sering muncul, para peserta didik perlahan mampu memahami arti kata demi kata, kemudian ayat demi ayat.
Keberhasilan itu menjadi awal perjalanan panjang Metode An-Nashr.
Nama “An-Nashr” dipilih dari Surah An-Nashr yang bermakna pertolongan. Sebuah doa agar siapa pun yang mempelajari Al-Qur’an memperoleh pertolongan Allah SWT dalam memahami firman-Nya.
Metode tersebut kemudian berkembang, tidak hanya menjadi bahan ajar, tetapi juga melahirkan sebuah ekosistem pendidikan. TPQ An-Nashr berdiri pada 2008, disusul MI An-Nashr pada 2010, SMP An-Nashr pada 2017, dan MA An-Nashr pada 2019. Dari waktu ke waktu, semakin banyak santri yang datang untuk belajar.
Jika dahulu perjalanan Wajak-Kepanjen ditempuh dengan sebuah Honda Supra Fit untuk mengajar di sekolah, kini KH Muhammad Taufik membimbing ratusan santri yang belajar di lingkungan pendidikan yang dirintisnya. Perubahan itu bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan buah dari istiqamah yang dijaga selama bertahun-tahun.
Mereka yang mengenal beliau kerap melihat sosok yang tetap sederhana. Kesuksesan tidak mengubah cara beliau memandang pengabdian. Mengajar, mendidik, dan membimbing santri tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya.
Kisah KH Muhammad Taufik mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebuah sepeda motor sederhana, perjalanan panjang menuju sekolah, ruang kelas yang penuh pengabdian, hingga lahirnya Metode An-Nashr menjadi rangkaian cerita yang saling terhubung.
Pada akhirnya, warisan terbesar seorang pendidik bukanlah bangunan yang berdiri megah ataupun jumlah santri yang terus bertambah. Warisan itu adalah ilmu yang terus hidup, diamalkan, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di situlah perjuangan KH Muhammad Taufik menemukan maknanya. Berawal dari seorang guru yang setia menempuh perjalanan dengan Honda Supra Fit, kini beliau dikenal sebagai pendidik yang berhasil menghadirkan jalan bagi banyak orang untuk lebih dekat dengan makna Al-Qur’an. (fbr)
