Sekilasmalang.com – Pagi itu, suasana di tepi Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas kawasan Tlogomas, Kota Malang, tampak berbeda. Sejumlah anggota Komunitas Brantas Express berkumpul sambil membawa kantong-kantong berisi bibit ikan. Tidak ada panggung megah, tidak ada seremoni mewah, hanya semangat sederhana untuk mengembalikan kehidupan ke sungai yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka.
Satu per satu bibit ikan kemudian dilepaskan ke aliran Sungai Brantas, Minggu (14/6/2026). Di balik aksi sederhana itu, tersimpan pesan besar tentang kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab menjaga kelestarian alam.
Komunitas Brantas Express berhasil menebar 20.000 bibit ikan di sejumlah titik di sepanjang aliran Sungai Brantas, mulai dari wilayah Batu hingga Donomulyo. Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kontribusi para penghobi mancing dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Ketua Komunitas Brantas Express, Anwar Huda, mengatakan Sungai Brantas bukan sekadar lokasi untuk menyalurkan hobi memancing. Bagi para anggota komunitas, sungai merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan sekaligus sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Titik kumpul pembagian bibit di Tlogomas. Kemudian bibit kami sebar mulai dari wilayah Batu sampai Donomulyo,” ujar Anwar Huda.
Menurutnya, aksi tebar bibit ikan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin berkurangnya populasi ikan di beberapa titik Sungai Brantas. Para anggota komunitas tidak ingin hanya menjadi penikmat alam, tetapi juga ikut berperan dalam merawat dan melestarikannya.
Yang menarik, kegiatan konservasi tersebut sepenuhnya dibiayai secara mandiri melalui hasil penjualan topi komunitas. Sebanyak 210 topi Brantas Express berhasil terjual dengan total keuntungan mencapai Rp4,2 juta.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan kegiatan. Sebesar Rp3,5 juta dialokasikan untuk pengadaan 20.000 bibit ikan, sedangkan Rp250 ribu digunakan untuk mencetak 10 lembar banner dan Rp250 ribu lainnya dipakai untuk penambahan stiker Brantas Express. Setelah seluruh pengeluaran sebesar Rp4 juta, masih tersisa dana Rp200 ribu yang kemudian dimasukkan ke kas komunitas.
“Alhamdulillah acara kita berjalan lancar dan sukses. Kami juga akan merincikan uang masuk dan keluar dari penjualan topi kemarin. Keuntungan penjualan topi sebesar Rp4,2 juta, total pengeluaran Rp4 juta, dan sisa Rp200 ribu kami masukkan ke kas Tim Brantas Express,” ungkap Anwar.
Bagi sebagian orang, topi mungkin hanya sekadar aksesori. Namun, di tangan para anggota Brantas Express, hasil penjualan topi itu berubah menjadi ribuan bibit ikan yang kini berenang di Sungai Brantas. Dari benda sederhana itu lahir gerakan kecil yang membawa harapan besar bagi kelestarian sungai.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa hobi memancing tidak identik dengan mengambil hasil alam semata. Para anggota Brantas Express justru ingin membangun budaya baru di kalangan pemancing, yakni menjaga, merawat, dan mengembalikan apa yang telah diberikan alam.
“Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas mancing juga punya tanggung jawab terhadap lingkungan. Kalau ingin anak cucu kita nanti masih bisa melihat ikan di Sungai Brantas, maka mulai sekarang kita harus ikut menjaganya,” kata Anwar.

Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang mengancam sungai-sungai di Indonesia, langkah sederhana Komunitas Brantas Express menjadi bukti bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal kecil. Dari menjual 210 topi, terkumpul jutaan rupiah, lalu berubah menjadi 20.000 bibit ikan yang kembali menghidupkan Sungai Brantas.
Sebuah aksi yang mungkin tampak sederhana, namun menyimpan pesan besar: memancing bukan hanya soal mendapatkan ikan, tetapi juga memastikan kehidupan di sungai tetap lestari untuk generasi mendatang.(aln)
