Festival Kali Brantas #5 Gaungkan Pelestarian Sungai Lewat Ritual Budaya di Titik Nol Sumber Brantas

Sekilas Nalang – Dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional 2026, Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang kembali menggelar Festival Kali Brantas #5. Kegiatan yang digagas Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, berlangsung pada 25–26 Juli 2026 sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian Sungai Brantas melalui pendekatan budaya dan tradisi.

Rangkaian festival diawali dengan prosesi Petik Tirto Amerto dan Jamasan Kali Brantas yang digelar di Arboretum Titik Nol Sumber Brantas, Kota Batu, Sabtu (25/7/2026). Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap mata air Brantas sebagai sumber kehidupan sekaligus ungkapan rasa syukur atas keberadaannya yang selama ini menghidupi jutaan masyarakat di Jawa Timur.

Prosesi dimulai dengan arak-arakan sekitar 20 peserta yang terdiri atas penari, perwakilan tujuh kampung tematik Kota Malang, serta sejumlah pegiat budaya. Mereka dikawal langsung oleh Ki Demang sambil membawa kendi dan bumbung bambu sebagai wadah air suci. Sepanjang perjalanan menuju Titik Nol Sumber Brantas, rombongan diiringi lantunan kidung macapat yang menambah nuansa sakral.

Sesampainya di lokasi, penari dari Kampung Budaya Polowijen membawakan Tari Tirta Amerta. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan mantra oleh budayawan Kota Batu Ki Lelono, didampingi budayawan Kota Malang Mbah Karjo.

Selanjutnya, para peserta secara bergantian mengambil air dari sumber mata air Brantas menggunakan kendi dan bumbung. Prosesi diawali oleh perwakilan Perum Jasa Tirta I Malang, disusul para penari, perwakilan tujuh kampung tematik Kota Malang, Komunitas Perempuan Bersanggul Nusantara, hingga Pamong Kebudayaan Jawa Timur.

Suasana semakin khidmat ketika dilaksanakan prosesi Jamasan terhadap para penari. Ritual tersebut melambangkan penyucian diri sekaligus doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai mara bahaya. Air dari Sumber Brantas dimaknai sebagai simbol kehidupan yang harus dijaga dan dilestarikan bersama.

Ketua Komunitas Perempuan Bersanggul Nusantara (PBN), Sany Repriandini, mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kali Brantas yang menurutnya telah menjadi agenda pelestarian budaya dan lingkungan selama lima tahun terakhir.

“Kegiatan ritual seperti ini mengingatkan kita bahwa sumber mata air harus dijaga demi kelestarian lingkungan untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Pamong Kebudayaan Jawa Timur, Indah Kalalo. Ia mengaku telah mengikuti ritual Kali Brantas bersama Ki Demang selama lima tahun terakhir dan menilai kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya pemajuan kebudayaan.

“Ritual adat seperti ini harus terus diselenggarakan sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan. Tradisi dapat dikreasikan, mulai dari yang bersifat sakral hingga menjadi hiburan, tetapi edukasi lingkungan tetap harus menjadi prioritas,” katanya.

Setelah prosesi di Titik Nol Sumber Brantas selesai, air suci yang telah didoakan kemudian dibawa menuju Kota Malang melalui prosesi Atur Tirto Wening Kali Brantas pada Minggu (26/7/2026). Rombongan mengunjungi tujuh kampung tematik yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sebagai simbol penyebaran semangat menjaga kelestarian sungai kepada masyarakat.

Melalui Festival Kali Brantas #5, Forkom Pokdarwis Kota Malang berharap nilai-nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kelestarian Sungai Brantas yang menjadi salah satu sumber kehidupan utama di Jawa Timur. (aln)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *