Viral di Malang: 5 Mahasiswa UB Ciptakan Rompi Anti Tantrum yang Bisa Memeluk Otomatis, Dipuji Wapres Gibran

Rompi anti tantrum UB ADAPT-V karya mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

MALANG — Bayangkan sebuah rompi yang bisa merasakan anak akan tantrum bahkan sebelum tangisnya pecah, lalu memeluknya dengan tekanan hangat sampai tenang kembali. Bukan fiksi. Lima mahasiswa Universitas Brawijaya baru saja mewujudkannya.

Rompi anti tantrum UB ADAPT-V - inovasi mahasiswa Universitas Brawijaya Malang
Rompi pintar ADAPT-V karya lima mahasiswa UB berbasis Deep Pressure Therapy. Foto: Universitas Brawijaya / detikEdu.

Inovasi bernama ADAPT-V ini langsung mencuri perhatian. Rompi anti tantrum UB tersebut bekerja tanpa perlu orang tua menekan tombol apa pun. Ia mendeteksi, memeluk, lalu melepas sendiri. Di awal September 2026, karya ini bahkan sampai ke meja Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Istana Wapres.

Bukan rompi biasa, ini pelukan yang tahu kapan harus datang

Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering kesulitan memproses rangsangan sensorik. Suara keras, cahaya, atau sentuhan kecil bisa memicu respons besar: menangis, berteriak, menendang, hingga melukai diri sendiri. Orang tua tahu rasanya — panik, ingin membantu, tapi tak selalu tahu kapan harus memeluk dan seberapa kuat.

ADAPT-V menjawab tepat di titik itu. Tim lintas fakultas UB — dari Psikologi dan Teknik Elektro — merancang rompi ini berbasis Deep Pressure Therapy (DPT), metode yang memang terbukti memberi efek relaksasi lewat tekanan terkontrol seperti pelukan hangat. Bedanya, versi mahasiswa UB ini sepenuhnya otomatis dan real-time.

Kisah inovasi kampus Malang seperti ini bukan yang pertama. Sebelumnya, ragam KKN-T mahasiswa Malang yang juga berdampak sosial menunjukkan bagaimana mahasiswa turun langsung ke masyarakat. Kini giliran teknologi kesehatan yang jadi sorotan.

Cara kerja rompi anti tantrum UB yang bikin terapis kaget

Ketua tim Zakky Yahya dari Teknik Elektro UB menjelaskan sistemnya sederhana tapi cerdas. Dua sensor jadi mata dan telinga rompi: sensor denyut nadi MAX30102 untuk membaca detak jantung, dan sensor gerakan MPU6050 untuk memetakan pola gerak anak.

Data keduanya tidak dibaca mentah-mentah. Algoritma Support Vector Machine (SVM) — bagian dari machine learning — menganalisis pola tersebut untuk mendeteksi presisi kapan fase tantrum mulai muncul. Begitu terdeteksi, mikrokontroler ESP32 langsung memerintahkan micro air pump DC mengisi kantung udara di dalam rompi.

Hasilnya? Tekanan lembut yang konsisten memeluk tubuh anak. Keamanannya dijaga algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung ke sensor tekanan MPX5100DP. Tekanan tidak akan berlebihan. Stabil di batas aman.

Dan ketika sensor membaca anak sudah tenang, katup solenoid terbuka perlahan. Rompi mengempis otomatis. Tanpa ditarik, tanpa dipaksa.

Semua proses itu juga terkoneksi IoT via Wi-Fi ke aplikasi smartphone. Orang tua dan terapis bisa memantau real-time dari jarak jauh — kapan rompi aktif, berapa lama tekanan diberikan, dan bagaimana respons anak. Detail teknis lengkapnya pertama kali diulas detikEdu dalam laporan ADAPT-V.

Diuji ketat, dibimbing dokter, sampai dipuji Wapres Gibran

Tim tidak main-main soal keamanan. Pengembangan ADAPT-V didanai Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan dibimbing Ir Nurussa’adah, MT dari Teknik Elektro serta dr Agung Riyanto Budi S, SpOT dari Kedokteran UB.

Pengujian dilakukan berlapis: akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan tekanan udara. Bahkan terapis di lembaga pendidikan inklusif dilibatkan langsung untuk menilai kenyamanan, keamanan medis, dan kemudahan pemakaian. Seperti solidaritas kampus lain yang terlihat pada aksi solidaritas mahasiswa di Malang, pendekatan mereka kolaboratif — bukan hanya soal alat, tapi soal penerimaan di lapangan.

Puncaknya, awal September 2026, tim ADAPT-V bersama dosen dan mahasiswa berprestasi UB lainnya diundang audiensi ke Istana Wakil Presiden. Wapres Gibran Rakabuming menyampaikan apresiasi dan mendorong hilirisasi — agar rompi ini tidak berhenti jadi prototipe lomba, tapi masuk produksi massal dan benar-benar dipakai keluarga yang membutuhkan.

Jika itu terwujud, Malang tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tapi juga kota yang melahirkan teknologi empatik. Teknologi yang tidak sekadar pintar, tapi tahu kapan harus memeluk.

Ingin lihat langsung bagaimana rompi ini bekerja saat mendeteksi detak jantung dan gerakan? Gulir ke foto di atas — detail sensor dan kantung udaranya terlihat jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *