Perayaan HUT ke-3 Jowo Line Dance, Lestarikan Busana dan Budaya Jawa di Desa Mangliawan

MALANG – Dalam upaya pelestarian budaya dan busana tradisional Jawa, Komunitas Jowo Line Dance (JLD) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 pada 14 Desember 2025 dengan sebuah perhelatan budaya yang penuh makna dan nuansa khas Jawa. Acara ini digelar di Pendopo Joglo Mangliawan, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, yang dikelola oleh Lembaga Adat Desa Mangliawan. Perayaan tersebut mengangkat nilai-nilai budaya Jawa dan menjadi ajang untuk mempererat kebersamaan antara generasi muda dan pelestari budaya.

Meriahkan HUT ke-3 JLD dengan Berbagai Pertunjukan Budaya

Acara dimulai dengan Tari Topeng Grebeg Jowo, yang dibawakan oleh seniman dari Kampung Budaya Polowijen, sebagai pembuka acara. Tari Topeng Grebeg Jowo, yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, menggambarkan kekayaan tradisi dan spiritualitas Jawa. Rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni tradisional, termasuk Tari Gambyong Bule Kecil, Tari Kelono Sewandono, Tari Pesisir, dan Tari Gandrung, yang semuanya dipersembahkan oleh sanggar-sanggar seni ternama di Malang.

Sebelum acara utama, para tamu dihibur dengan penampilan Nanda, penyanyi keroncong dari Kayutangan. Suasana semakin semarak dengan penampilan Miben Voice yang menyanyikan tembang-tembang Jawa, diikuti oleh Jowo Line Dance yang menampilkan Tari Arimbi.

Sambutan dari Tokoh Budaya dan Penghargaan terhadap Komunitas Seni

Acara HUT ke-3 JLD ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh budaya, di antaranya Ki Rinto Syamsuryono (Pemangku Komunitas Budaya JLD), Wandi Iswanto (Pemangku Adat Desa Mangliawan), Ki Demang (Budayawan Kota Malang), serta Ki Suroso (Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur). Dalam sambutannya, Ki Suroso menyampaikan rasa bangga atas pencapaian JLD dalam mempersatukan pelestari budaya. “JLD telah menjadi bagian dari komunitas yang dapat mengkolaborasikan pelestari budaya dalam pementasan bersama,” ujar Ki Suroso.

Ki Suroso juga mengapresiasi pemanfaatan Pendopo Joglo Mangliawan sebagai ruang budaya oleh JLD. Ia meyakini, dengan rutin digunakan untuk kegiatan seni dan budaya, tempat tersebut akan terus berkembang dan menjadi pusat kebudayaan yang penting di Malang.

Simbolis Rasa Syukur: Ujub Umbul Donga dan Pelepasan Burung Dara

Sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan tiga tahun JLD, acara dilanjutkan dengan Ujub Umbul Donga, pemotongan tumpeng, dan pelepasan burung dara. Tindakan ini memiliki makna simbolis sebagai doa, harapan, dan kebebasan dalam berkarya serta menjaga harmoni kehidupan.

Peran JLD dalam Pelestarian Busana Tradisional

Dalam acara ini, komunitas Perempuan Konde dan Kebaya Malang juga turut berpartisipasi, meramaikan perayaan dengan fashion show dan penampilan bersama. Ike Damayanti, Ketua Perempuan Konde dan Kebaya Malang, menyampaikan rasa bangganya terhadap JLD. “Kami hadir untuk mendukung JLD karena komunitas ini berperan besar dalam pelestarian busana kebaya dan tembang Jawa,” ujar Ike. JLD, menurutnya, telah menjadi simpul pelestarian budaya yang menghidupkan kembali tembang Jawa dan busana tradisional dengan cara yang menghibur dan inklusif.

JLD: Komunitas Seni yang Menghidupkan Kembali Tradisi Jawa

Perayaan HUT ke-3 Jowo Line Dance ini menunjukkan bahwa JLD tidak hanya berkembang sebagai komunitas seni pertunjukan, tetapi juga sebagai pelopor dalam merawat dan melestarikan nilai-nilai budaya Jawa. Melalui ekspresi kreatif yang membumi dan inklusif, JLD berhasil menggabungkan unsur seni, busana, dan budaya Jawa dalam setiap penampilannya, menjadikannya wadah bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan warisan budaya Indonesia.

Tentang Jowo Line Dance

Jowo Line Dance (JLD) adalah komunitas seni yang fokus pada pelestarian budaya Jawa, terutama melalui tari, tembang, dan busana tradisional. Dikenal dengan kolaborasi kreatifnya, JLD berkomitmen untuk menjaga dan mempromosikan budaya Jawa melalui berbagai kegiatan seni yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, baik generasi muda maupun tua. JLD telah menjadi bagian penting dalam upaya melestarikan warisan budaya Indonesia di era modern.(fbr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *