Peringatan Hari Ulang Tahun ke-1265 Kabupaten Malang pada Jumat, 28 November 2025 menjadi momen penting bagi masyarakat, terutama bagi kawasan Madyopuro, Kedungkandang, Kota Malang. Di tengah dinamika pembangunan kota, Kampung Gribig Religi tampil sebagai ruang baru yang menawarkan napas sejarah, spiritualitas, dan kebanggaan lokal melalui pengelolaan kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig serta Gedung Makam Bupati Malang ke-1 dan ke-2 yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sejak 2018.
Selama ini, banyak masyarakat mengenal Gribig hanya sebagai tempat ziarah. Namun, geliat baru mulai nampak—warga telah mengangkat lokasi tersebut sebagai destinasi religi yang edukatif, tertata, dan berorientasi sejarah. Ini bukan sekadar pengelolaan situs pemakaman, tetapi sebuah gerakan kebangkitan wisata yang bertumpu pada nilai-nilai sejarah dan spiritualitas yang kuat.
*Warisan Leluhur yang Menjadi Penanda Identitas*
Keberadaan kompleks makam Ki Ageng Gribig dan Gedung makam Bupati Malang ke-1 dan ke-2 menjadi bukti betapa kawasan Gribig memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah Malang. Nilai spiritual, filosofis, dan historis yang terkandung di dalamnya merupakan modal sosial besar yang layak diangkat sebagai kekuatan pariwisata religi.
Di tengah arus modernitas, masyarakat justru semakin mencari ruang kontemplatif yang memiliki jejak sejarah. Kampung Gribig menawarkan itu semua—kisah leluhur, jejak kepemimpinan lokal, garis keturunan ulama, dan simbol budaya Jawa-Islam yang telah hidup ratusan tahun.
*Gagasan Penguatan Wisata Religi Kampung Gribig*
Berbagai gagasan telah lahir dari warga dan pengelola untuk mengembangkan potensi besar ini. Setidaknya, terdapat empat pendekatan utama:
1. Mengangkat Nilai Religius Situs
Gedung makam para Bupati Malang awal dan Ki Ageng Gribig menyimpan khazanah spiritual yang dalam. Nilai-nilai religius, filosofi kehidupan, serta teladan kepemimpinan masa lampau dapat dikemas menjadi materi edukasi sejarah dan religi bagi pelajar, peziarah, maupun wisatawan.
2. Penguatan Infrastruktur Pendukung
Ketersediaan sarana ibadah seperti Langgar Kanjeng Surgi, ruang istirahat, taman ramah pengunjung (Taman Indah Lestari), serta toilet representatif sangat penting bagi kenyamanan wisatawan. Infrastruktur yang baik adalah fondasi destinasi yang berkelanjutan.
3. Event Religi sebagai Daya Tarik Tahunan
Ritual yang telah berlangsung selama beberapa tahun seperti Mbabar Bubur Suro, Rumat-Ramut Wulan Mulud, Megengan dan Kirab Gunungan Apem, serta kegiatan islami lainnya perlu terus dikembangkan. Event tahunan adalah identitas, sekaligus magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
4. Pengembangan Paket Wisata Religi
Kawasan Gribig dapat terhubung dengan paket ziarah wali limo, wali songo, atau rute ziarah Malang Raya. Dengan narasi sejarah yang kuat, Gribig berpotensi menjadi salah satu titik awal perjalanan spiritual di Jawa Timur.
*Strategi Pengembangan Menuju Destinasi Religi Unggulan*
Untuk mendorong kawasan ini menjadi destinasi religi yang berkelas dan berkelanjutan, diperlukan strategi yang terukur dan kolaboratif:
1. Kolaborasi Multi-Pihak
Pengembangan berbasis komunitas harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari RT/RW, kelurahan, kecamatan, organisasi pariwisata (HPI), agen perjalanan, komunitas religius, hingga pemerintah kota. Kolaborasi ini menjadi kunci agar pengembangan tidak hanya berjalan, tetapi juga mengangkat citra Kota Malang sebagai kota sejarah dan religi.
2. Promosi dan Pemasaran yang Konsisten
Sosialisasi melalui media sosial, Instagram, Facebook, website, hingga brosur fisik akan memperluas jangkauan wisatawan. Materi promosi dapat menonjolkan kisah sejarah, foto kompleks makam, acara religi, dan testimoni peziarah.
3. Penguatan Sumber Daya Manusia
Pengelola, juru kunci, pokdarwis, hingga calon pemandu wisata religi harus mendapatkan pelatihan mengenai narasi sejarah, tata kelola destinasi, pelayanan wisata, hingga manajemen event. SDM unggul akan menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas.
4. Pengelolaan Lingkungan yang Tertib dan Berkelanjutan
Kebersihan, keamanan, serta kenyamanan peziarah harus selalu dijaga. Dengan peran aktif juru kunci dan tenaga kebersihan warga, Gribig dapat menjadi contoh destinasi religi yang tertata dan ramah pengunjung.
*Penutup: Momentum Kebangkitan Wisata Berbasis Sejarah*
Mengembangkan Gedung makam Bupati Malang ke-1 dan ke-2 sebagai cagar budaya bukan sekadar upaya mengenang masa lalu. Ini adalah langkah membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya sejarah lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi warga.
HUT ke-1265 Kabupaten Malang menjadi momentum yang tepat untuk menegaskan bahwa wisata religi—jika digarap serius—akan menjadi sumber daya pariwisata masa depan. Kampung Gribig Religi dapat menjadi role model bahwa sejarah, spiritualitas, dan partisipasi masyarakat adalah kombinasi ideal untuk membangun destinasi yang berkelanjutan dan bermartabat.
Dengan demikian, Gribig bukan hanya tempat ziarah, tetapi ruang belajar, ruang ekonomi, ruang kebudayaan, dan ruang peradaban bagi generasi hari ini dan yang akan datang.
Oleh: Agus Saikhu
Sekertaris Pokdarwis Kampung Gribig Religi
