Dari Atap Turun ke Piring: Kisah Sukses Urban Farming Sawi di Sekolah



Ketika mendengar kata perkuliahan, banyak orang langsung membayangkan ruang kelas, tumpukan teori, dan materi yang harus dihafal. Padahal, pembelajaran di perguruan tinggi sebenarnya jauh lebih luas daripada itu. Praktik lapangan justru menjadi bagian penting yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan semakin peka terhadap lingkungan sosial.

Itulah yang dilakukan Institut Teknologi Kesehatan Malang Widya Cipta Husada (ITKM WCH). Didukung oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdikti Saintek 2025, kampus ini memperkenalkan teknik urban farming kepada siswa-siswi SMA Islam Kepanjen sebagai bagian dari program Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum Berbasis Proyek Tahun 2025.

Urban Farming: Solusi Hijau di Tengah Kota

Urban farming bukan sekadar tren, melainkan jawaban atas tantangan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan. Ketika ruang terbuka semakin tergeser bangunan, pertanian perkotaan hadir sebagai solusi penyediaan pangan yang efisien. Lebih dari itu, konsep ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena mudah diterapkan dan dapat dilakukan di mana saja—bahkan di atap sekolah.

Dari berbagai tanaman yang bisa dibudidayakan, sawi pokcoy dipilih sebagai komoditas utama. Alasannya cukup sederhana: masa panennya cepat (30–40 hari), mudah dirawat, bernutrisi tinggi, dan tetap tumbuh optimal meski ditanam di ruang terbatas seperti polybag, rak hidroponik, atau sistem vertikultur.

Belajar Langsung di Rooftop Sekolah

Siswa kelas IX diajak langsung turun ke lapangan, tepatnya ke area rooftop sekolah yang sebelumnya tak termanfaatkan. Di sana, mereka belajar mulai dari nol:

Mencampur media tanam berupa tanah subur dan sekam

Menyiapkan polybag dan peralatan seperti sekop kecil, sarung tangan, dan gembor

Mengenal bibit pokcoy dan teknik penanamannya


Pengalaman ini bukan sekadar praktik menanam, tetapi juga cara baru bagi para siswa untuk memahami proses produksi pangan yang selama ini mungkin hanya mereka lihat di pasar atau supermarket.

Lebih dari Belajar: Urban Farming sebagai Terapi

Di era ketika layar gadget mendominasi kehidupan remaja, urban farming menghadirkan manfaat tambahan: penyegaran mental. Aktivitas bercocok tanam terbukti mampu meredakan stres, meningkatkan fokus, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Seperti yang disebutkan Kusumandari (2024), interaksi langsung dengan alam memberi dampak positif pada kesehatan mental—khususnya bagi pelajar yang sebagian besar waktunya berada di dalam ruangan.

Perlu Kolaborasi Berkelanjutan

Agar kegiatan urban farming benar-benar optimal, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Bukan hanya sekolah dan kampus, tetapi juga pemerintah dan masyarakat sekitar. Bentuk dukungannya pun beragam, mulai dari penyediaan sarana budidaya hingga pelatihan pertanian modern yang mudah diaplikasikan di lingkungan sekolah.

Idealnya, urban farming tidak hanya menjadi proyek sementara, tetapi menjadi bagian dari budaya belajar yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan lingkungan hidup. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Oleh: Wilis Cahyaning Ayu, S.Gz., M.Kes; Arslan Kamil Aries, S.Tr.Kep., Ns., M.Tr.Kep; Dr. M. Odik Afifin, S.Pd., S.Pd.I., M.KPd., M.Pd., M.Pd.I; Syahra Firqi Rahmawan; Margaretha Roswita Nahak; Ecalia Ndu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *