MALANG — Buku Mandala Kembang: Pendapat Sederhana tentang Pikukuh Sunda karya Tri Utami mendapat sambutan positif dari sejumlah tokoh nasional dan daerah. Buku yang diterbitkan oleh Intrans Publishing ini dinilai berhasil menghadirkan ajaran leluhur Sunda secara sederhana, reflektif, dan relevan dengan dinamika kehidupan manusia masa kini.
Sejak diumumkan, buku ini menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari pemerhati budaya, akademisi, hingga pemangku kebijakan. Sambutan baik tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan tokoh yang menilai Mandala Kembang tidak hanya sebagai buku budaya, tetapi juga sebagai panduan nilai dan cara berpikir dalam menjalani kehidupan.
Menghidupkan Pikukuh Sunda dalam Bahasa Zaman Kini
Dalam Mandala Kembang, Tri Utami mengulas Pikukuh Sunda, yakni prinsip hidup masyarakat Sunda yang menekankan keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ajaran tersebut disajikan dalam bahasa yang lugas dan mudah dipahami, sehingga dapat diakses oleh pembaca lintas generasi.
Buku ini mengajak pembaca memahami kembali makna jati diri, cara hidup, dan kesadaran manusia melalui sudut pandang budaya. Tidak berhenti pada aspek tradisi, Tri Utami juga mengaitkan Pikukuh Sunda dengan ilmu pengetahuan, logika, dan refleksi spiritual, sehingga ajaran leluhur terasa kontekstual dengan tantangan kehidupan modern.
Dedi Mulyadi: Ajaran Leluhur Sunda Tetap Relevan
Sambutan positif datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia mengaku terkesan dengan kedalaman isi buku Mandala Kembang yang mampu merangkai ajaran leluhur Sunda dengan pemahaman universal tentang kehidupan.
“Jujur, saya terkesan kala membaca karya Ceu Trie Utami tentang Pikukuh Sunda. Bagaimana bumi diciptakan, teori Big Bang, hingga lanskap hidup, semuanya ada dalam ajaran leluhur Sunda yang ditulis dalam buku ini. Dengan mengenal betul sejarah manusia, kita akan mampu menyelaraskan diri sehingga mencapai keberhasilan atas kehidupan,” ujar Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi, pemahaman terhadap nilai budaya menjadi fondasi penting dalam membangun manusia yang berkarakter dan berkesadaran.
Apresiasi dari Dunia Pendidikan
Selain Dedi Mulyadi, sambutan baik juga disampaikan oleh Purwanto, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Ia menilai Mandala Kembang memberikan penjelasan komprehensif mengenai Sunda dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya.
“Apakah Sunda itu? Dengan membaca buku ini, wawasan tentang Sunda, Pikukuh Sunda, perbedaan orang dan manusia Sunda, budaya dan mental Sunda, jati diri Sunda, hingga hubungan transendental dapat terjawab dengan terang benderang,” kata Purwanto.
Ia menilai buku ini relevan sebagai bahan bacaan pendukung pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Budi Dalton: Menjadi “Manusa Sunda”
Sementara itu, akademisi dan budayawan Budi Dalton menilai Mandala Kembang sebagai refleksi mendalam tentang konsep manusia dalam perspektif Sunda.
“Buku ini mengajak pembaca menjadi ‘manusa Sunda’, manusia cahaya yang memiliki kesadaran, budi pekerti, dan kemampuan untuk menjaga keseimbangan hidup. Pesan dalam buku ini lahir dari perjumpaan antara logika, ilmu pengetahuan, dan kehalusan rasa,” ungkap Budi Dalton.
Ia menambahkan bahwa buku ini membuka ruang dialog antara tradisi, ilmu, dan pengalaman spiritual manusia modern.
Diterbitkan Intrans Publishing.
Buku Mandala Kembang: Pendapat Sederhana tentang Pikukuh Sunda diterbitkan oleh Intrans Publishing dan saat ini telah dibuka untuk pre order pada 16–31 Desember 2025. Kehadirannya diharapkan memperkaya khazanah literasi budaya Nusantara, khususnya budaya Sunda.
Sebagai penulis, Tri Utami dikenal konsisten mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam karya-karyanya. Melalui Mandala Kembang, ia berupaya menjembatani ajaran leluhur dengan kehidupan masa kini, agar tetap hidup dan dapat dipahami lintas generasi.
Lebih dari sekadar buku budaya, Mandala Kembang hadir sebagai ruang refleksi, mengajak pembaca menata kembali hubungan dengan diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta.(*)
