Studi Banding DPRD Sidoarjo: Kampung Budaya Polowijen Jadi Rujukan Wisata Edukasi di Kota Malang


Malang — Kota Malang kembali menunjukkan kelasnya sebagai kota kreatif dunia. Meski tidak memiliki destinasi wisata alam yang dominan, Malang mampu menghadirkan berbagai wisata edukasi berbasis budaya yang menarik minat banyak kalangan. Sebagai kota pendidikan dengan sejarah panjang sejak era Kerajaan Kanjuruhan, Tumapel/Singhasari hingga Majapahit, Malang tumbuh menjadi kota multikultur yang kaya potensi seni dan budaya.

Sejak ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia bidang Media Arts oleh UNESCO dalam jaringan ICCN, Malang semakin meneguhkan identitasnya. Tidak hanya unggul dalam seni digital, film, video, dan pertunjukan, tetapi juga melalui kreativitas masyarakat di kampung-kampung tematik.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kampung Budaya Polowijen (KBP). Kampung tematik berbasis budaya ini telah lama menjadi lokasi sinau budaya bagi pelajar, mahasiswa, hingga tamu pemerintahan dari berbagai daerah.



DPRD Kabupaten Sidoarjo Lakukan Studi Banding ke KBP

Pada Sabtu (29/11), sebanyak 24 anggota Komisi C dan D DPRD Kabupaten Sidoarjo melakukan studi banding ke Kampung Budaya Polowijen. Kunjungan ini bertujuan mempelajari pengelolaan kampung tematik Malang sebagai destinasi wisata edukasi.

Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Usman, mengapresiasi perkembangan Kota Malang sebagai kota kreatif dunia.

> “Kami punya banyak sentra industri kerajinan, tetapi mengapa di Malang semua itu bisa dikemas menjadi wisata edukasi? Ini yang ingin kami pelajari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa potensi Sidoarjo memiliki nilai tambah karena dekat dengan Surabaya dan bandara internasional.



Rombongan DPRD disambut Ki Demang, Ketua Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang sekaligus penggagas KBP. Mereka dijamu dengan kuliner tradisional serta pertunjukan Tari Jaranan dan Tari Topeng Malang, tari khas yang menjadi identitas Polowijen.



Sinau Budaya: Paket Edukasi Andalan KBP

Ki Demang menjelaskan bahwa kekuatan wisata kampung tematik di Malang tidak lepas dari bonus demografi dan banyaknya mahasiswa yang melakukan studi lapangan.

> “Hampir semua objek wisata di Malang selalu dikunjungi mahasiswa untuk kebutuhan edukasi kerajinan, kreativitas, maupun budaya. Pola ini bisa direplikasi di daerah lain seperti Sidoarjo,” jelasnya.



Selain rombongan DPRD, KBP juga dikunjungi 40 mahasiswa dari berbagai kampus:

Sastra FIB UB

DKV FS UM

Geografi UM

Psikologi UMM

Teknik Mesin ITN

Ilmu Komunikasi Unitri


Mereka datang dalam dua gelombang dan mengeksplorasi aktivitas budaya yang disajikan.

Paket kunjungan Sinau Budaya memungkinkan pengunjung mempelajari sejarah Malang sekaligus praktik langsung, seperti:

cetik geni di pawon KBP

membuat kuliner tradisional

belajar memakai jarik dan kebaya

membatik

mewarnai topeng

membuat wayang suket

hingga ikut menari bersama


Kirana Anjani, mahasiswa DKV UM, mengaku pengalaman di KBP sangat berkesan.

> “Momentum ini unik dan jarang ditemukan di tempat wisata lain. Video yang kami buat nanti juga untuk mempromosikan wisata budaya Kota Malang,” tuturnya.



KBP Menjadi Contoh Ideal Wisata Edukasi Budaya

Dengan kekayaan aktivitas budaya yang hidup dan mudah diakses, Kampung Budaya Polowijen semakin menegaskan diri sebagai destinasi edukasi budaya unggulan. KBP tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang interaktif, kreatif, dan relevan bagi masyarakat.

Keberadaan KBP sekaligus memperkuat posisi Kota Malang sebagai Kota Kreatif Dunia, yang terus berkembang melalui kolaborasi masyarakat, akademisi, dan pemerintah.(fry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *