Optimisme Ekonomi Indonesia 2026 “To The Mars”, Dosen FEB UMM Soroti Tantangan dan Solusi Nyata


Malang – Optimisme terhadap kinerja ekonomi Indonesia pada 2026 menguat setelah munculnya istilah “To The Mars” yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ungkapan tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah bahwa perekonomian nasional berpeluang tumbuh signifikan dan melampaui proyeksi awal.


Optimisme itu didorong oleh sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter antara pemerintah dan Bank Indonesia, serta dukungan konsumsi domestik, investasi, dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5–6 persen, dengan sektor industri hilir, teknologi digital, dan pariwisata sebagai motor utama.


Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM), Novi Puji Lestari SE, MM, menilai optimisme tersebut realistis, namun harus diiringi dengan kebijakan konkret untuk menjawab tantangan struktural.
“Untuk mewujudkan optimisme ekonomi Indonesia 2026 yang ‘to the mars’, penguatan daya beli masyarakat, perluasan akses pembiayaan UMKM, serta optimalisasi bonus demografi menjadi hal yang tidak bisa ditawar,” kata Novi, Sabtu (3/1/2026) via WhatsApp.


Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,32 persen, dengan dominasi pekerja di sektor informal. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,8 persen. Angka ini relatif terkendali, namun tetap menekan kelompok masyarakat berpendapatan rendah.


Di tingkat daerah, khususnya Malang Raya, BPS mencatat kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar 61 persen. Namun, produktivitas UMKM dinilai belum optimal akibat keterbatasan akses teknologi dan pembiayaan. Sektor pariwisata yang menjadi andalan wilayah ini juga masih menghadapi fluktuasi kunjungan wisatawan seiring perubahan pola konsumsi pascapandemi.


Menurut Novi, terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu segera diperkuat. Pertama, memperluas akses pembiayaan UMKM melalui optimalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah dan digitalisasi layanan keuangan. Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program vokasi serta penguatan skema link and match antara dunia pendidikan dan industri.


Ketiga, penguatan sektor pariwisata Malang Raya melalui diversifikasi destinasi berbasis budaya dan alam, disertai peningkatan infrastruktur transportasi menuju kawasan wisata. Keempat, menjaga stabilitas harga pangan dengan memperkuat rantai pasok pertanian lokal, mengingat inflasi pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi nasional.


Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, peningkatan investasi, serta penguatan pasar modal, optimisme ekonomi Indonesia 2026 dinilai memiliki dasar yang kuat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen dan potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 menjadi sinyal positif, selama tantangan struktural mampu diatasi melalui langkah nyata di tingkat nasional maupun daerah.(*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *