GEDANGAN, MALANG — Pasar Gedangan di Kecamatan Gedangan, Malang Selatan, menjadi salah satu pasar tradisional yang menyimpan keunikan tersendiri. Tidak seperti pasar pada umumnya yang beroperasi setiap hari, pasar ini justru hanya buka dua kali dalam lima hari, tepatnya pada hari Pahing dan Wage berdasarkan kalender Jawa. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap dipertahankan hingga hari ini.
Fenomena tersebut sering mengundang rasa penasaran banyak orang, terutama generasi muda yang tidak lagi akrab dengan sistem penanggalan Jawa. Mengapa Pasar Gedangan hanya beroperasi pada Pahing dan Wage? Bagaimana sejarahnya? Dan apa dampaknya bagi kehidupan ekonomi masyarakat setempat? Berikut laporan lengkapnya.
Tradisi Pasaran Jawa: Sistem Perdagangan Berusia Berabad-abad
Pasar Gedangan tidak bisa dilepaskan dari sistem pasaran Jawa yang dikenal dengan Pancawara, yaitu siklus lima hari yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sistem ini sudah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Mataram Kuno, Singhasari, hingga Majapahit.
Pada masa itu, pemerintah kerajaan mengatur waktu perdagangan melalui “hari pasaran” demi menjaga:
– arus kedatangan pedagang keliling,
– stabilitas harga komoditas,
– pemerataan aktivitas ekonomi antar-desa.
Gedangan, sebagai wilayah agraris yang telah dihuni sejak masa awal kolonial, mengikuti pola rotasi tersebut. Hari Pahing dan Wage ditetapkan sebagai hari pasaran desa dan menjadi acuan turun-temurun.
Alur Dagang Pedagang Keliling: Mengapa Pahing dan Wage?
Menurut keterangan para sesepuh desa, sejak dulu para pedagang dari berbagai penjuru Malang Selatan datang ke Gedangan berdasarkan jadwal tertentu. Pedagang dari daerah Bantur, Sumbermanjing, Pujiharjo, dan Turen biasanya baru sampai di Gedangan pada Pahing dan Wage—sehingga dua hari itu menjadi hari paling ramai.
Tradisi tersebut terus bertahan, bahkan ketika kolonial Belanda mulai masuk dan membangun sistem administrasi desa di abad ke-19. Pemerintah Belanda tidak mengubah jadwal pasaran yang sudah ada karena berfungsi baik dalam mengatur alur ekonomi.
“Kalau pasar dibuka setiap hari, tidak akan seramai ini. Pembeli menunggu Pahing dan Wage karena itu waktu paling lengkap bagi pedagang,” ujar salah satu pedagang sayur yang sudah puluhan tahun berdagang di Pasar Gedangan.
Kepercayaan Lokal dan Weton Desa
Selain alasan ekonomi, ada kepercayaan lokal yang memperkuat keputusan untuk tetap mempertahankan jadwal Pahing dan Wage. Dalam tradisi Jawa, setiap desa memiliki weton desa, yaitu hari tertentu yang dianggap membawa keberkahan dan kelancaran rezeki.
Di Gedangan, Pahing dan Wage dipercaya sebagai hari “tuwuh rejeki”—hari di mana perputaran uang dan belanja warga dianggap paling lancar. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat enggan mengubah jadwal pasar meskipun zaman telah berubah.
“Orang tua dulu bilang, kalau hari dipindah, takutnya pasar malah sepi,” ungkap seorang sesepuh desa yang enggan disebut namanya.
Pasar Lebih Ramai karena Tidak Dibuka Setiap Hari
Salah satu alasan kuat mengapa jadwal pasar tidak diubah adalah pertimbangan ekonomi. Dengan hanya buka dua kali dalam lima hari, Pasar Gedangan selalu dipadati warga sehingga:
– transaksi lebih ramai,
– pedagang mendapatkan pemasukan yang stabil,
– pembeli mendapatkan banyak pilihan komoditas.
Pasar yang buka setiap hari justru cenderung sepi, karena pedagang tidak bisa datang setiap waktu. Sistem ini juga memudahkan pedagang kecil untuk menghitung kebutuhan stok, biaya transportasi, dan waktu berdagang.

Daya Tarik Budaya di Tengah Modernisasi
Di tengah gempuran minimarket dan toko modern, Pasar Gedangan tetap berdiri kokoh dengan ciri khasnya. Banyak anak muda yang justru penasaran dengan tradisi Pahing dan Wage, sehingga beberapa di antaranya menjadikan pasar ini sebagai spot fotografi dan riset budaya.
Pasar Gedangan bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga ruang budaya yang mempertahankan identitas lokal. Tradisi ini menjadi bukti bahwa sistem ekonomi kuno pun dapat tetap relevan dan bertahan di era digital.
Kesimpulan
Pasar Gedangan yang hanya buka saat Pahing dan Wage bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari perpaduan antara:
sistem pasaran Jawa yang sudah ratusan tahun dipraktikkan,
alur pedagang keliling yang telah terbentuk sejak lama,
kepercayaan lokal tentang hari baik desa,
dan pertimbangan ekonomi yang membuat pasar selalu ramai.
Keunikan ini menjadikan Pasar Gedangan sebagai salah satu pasar tradisional paling menarik di Malang Selatan dan layak mendapat perhatian lebih dari generasi muda.
Oleh : Redaksi Sekilasmalang.com, dirangkai dari berbagai sumber.
