Lerak–Pandan Jadi Sabun Alami di Sekolah, Dorong Kebiasaan Cuci Tangan Sehat





Banyak masyarakat kini mulai menyadari bahaya bahan kimia sintetis dalam produk perawatan tubuh. Sabun konvensional, misalnya, dapat memicu iritasi kulit, alergi, hingga risiko kesehatan jangka panjang. Dampak lingkungannya pun tidak kalah serius, mulai dari pencemaran air hingga residu kimia yang sulit terurai. Karena itu, kebutuhan akan produk pembersih yang aman, murah, dan ramah lingkungan semakin mendesak.

Buah lerak dan daun pandan menjadi jawaban dari masalah tersebut. Dua bahan alami ini sudah lama digunakan oleh masyarakat sebagai pembersih pakaian maupun kebutuhan rumah tangga. Lerak memiliki kandungan saponin alami yang efektif membersihkan tanpa tambahan bahan kimia berbahaya, sementara pandan memberi aroma segar sekaligus memiliki efek antibakteri ringan.

Upaya pemanfaatan bahan alami itu diwujudkan melalui program kolaborasi ITKM Widya Cipta Husada bersama SMAN 1 Kepanjen, dengan dukungan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikti Saintek. Program ini bertujuan mengenalkan teknologi ramah lingkungan kepada pelajar sekaligus menghadirkan alternatif sabun cuci tangan alami yang ditempatkan di berbagai wastafel sekolah.

Mahasiswa ITKM dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan edukasi langsung di SMAN 1 Kepanjen. Kegiatan diawali dengan studi lapangan mengenai cara membuat ekstrak lerak dan ekstrak pandan segar. Selanjutnya, mereka menggelar workshop interaktif yang membahas bahaya sabun kimia, keunggulan bahan alami, hingga praktik pembuatan sabun tanpa bahan sintetis.

Para siswa tampak antusias mengikuti proses pencampuran bahan, pengujian busa, serta mencium aroma segar pandan yang dihasilkan. Mereka juga berdiskusi mengenai dampak sabun konvensional terhadap lingkungan dan bagaimana inovasi sederhana berbasis bahan lokal dapat menjadi solusi.

Program sabun alami berbahan lerak dan pandan ini bukan sekadar kegiatan praktik, melainkan simbol perubahan menuju gaya hidup lebih sehat dan berkelanjutan. Jika kesadaran seperti ini terus ditumbuhkan, bukan tidak mungkin kualitas air sungai meningkat, kesehatan kulit masyarakat lebih terjaga, dan lingkungan menjadi lebih lestari. Selain memberikan edukasi, kegiatan ini juga membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas melalui produk rumah tangga berbahan alami.

Ke depan, tim perancang berencana memperluas jangkauan workshop ke lebih banyak sekolah, melakukan uji pengembangan produk, hingga berkolaborasi dengan industri agar produk ini dapat dipasarkan secara lebih luas. Masyarakat pun dapat mencoba membuatnya sendiri di rumah—mulai dari langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi lingkungan.

Penulis: Sri Sugiarti, S.Si., M.Si.; Dr. M. Odik Arifin, S.Pd., S.Pd.I., M.KPd., M.Pd.; dan Nuril Ulya Maulidya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *