KOTA MALANG – Sebagai Kota Kreatif Dunia versi UNESCO, Malang kembali menunjukkan pesonanya di mata wisatawan mancanegara. Sepanjang Januari hingga November 2025, tercatat rata-rata 300 wisatawan asing keluar masuk kampung-kampung tematik setiap hari. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Sebagian besar turis awalnya datang untuk menuju Bromo atau mengikuti konferensi di kampus-kampus Kota Malang. Namun, banyak dari mereka akhirnya menghabiskan waktu lebih lama untuk menjelajah kampung-kampung tematik yang menawarkan pengalaman visual dan budaya yang unik.
Kajoetangan dan Kampung Warna-Warni Jadi Magnet Utama
Daya tarik utama wisatawan asing masih berpusat pada beberapa kampung ikonik, seperti Kampung Heritage Kajoetangan, Kampung Warna-warni Jodipan, Kampung Tridi, dan Kampung Biru Arema.
Di Jodipan, Tridi, dan Kampung Biru, wisatawan banyak menghabiskan waktu untuk swafoto dengan latar mural warna-warni, lukisan 3D, hingga pemandangan Sungai Brantas yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Sementara itu, wisatawan Eropa cenderung memilih menyusuri lorong-lorong Kajoetangan Heritage. Mereka menikmati suasana kampung yang tenang, bangunan kolonial yang terjaga, serta deretan kafe dan rumah tua yang mempertahankan nuansa masa lalu.
Malang Kota Kreatif Dunia, Daya Tarik Wisata Budaya
Ayu Fitriatul Ulya, Kepala Pusat Kajian Pariwisata Diploma Kepariwisataan Unmer Malang, menyatakan bahwa meningkatnya kunjungan wisman tak lepas dari branding Kota Malang sebagai Creative Heritage City dalam jaringan UNESCO.
“Malang kota Instagramable dan cultural friendly yang menyediakan spot foto kekunoan dan kekinian. Orang Eropa yang mengenal Malang sebagai Paris van Java ikut mengundang wisatawan lainnya datang,” ujarnya.
Polowijen Muncul Sebagai Laboratorium Budaya Internasional
Berbeda dengan pola kunjungan di kampung tematik visual, Kampung Budaya Polowijen (KBP) menarik wisatawan dengan paket sinau budaya. Turis mengikuti kegiatan langsung seperti menyaksikan tari Topeng Malangan, ikut menari jaranan, belajar membatik, hingga menikmati jajanan tradisional.
Pada Oktober–November 2025, kunjungan didominasi rombongan akademisi internasional. Beberapa universitas luar negeri yang datang antara lain:
Universiti Sains Islam Malaysia
Universiti Utara Malaysia
Universiti Teknologi Malaysia
Peking University (China)
Indian Institute of Science (IISc)
University of Delhi
Osaka University
Sebagian besar rombongan terdiri dari 20 wisatawan asing yang datang bersama universitas di Indonesia seperti UB dan Unair. Fokus kunjungan berkisar pada studi budaya Panji, ekspedisi Pamalayu, hingga pengembangan ekonomi kreatif di tingkat kampung.
Kolaborasi Pentahelix Dorong Kenaikan Wisatawan
Ketua Pokdarwis Kota Malang sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi, menyebut meningkatnya kunjungan wisman merupakan hasil kerja sama pentahelix pelaku pariwisata.
“Masing-masing saling merekomendasikan karena kampung-kampung tematik menyediakan edukasi sekaligus otentisitas budaya,” jelasnya.
Pria yang juga karib disapa Ki Demang ini menambahkan, kreativitas digital juga berperan besar mempercepat promosi kampung wisata.
Dampak Positif bagi Ekonomi dan Ekosistem Budaya
Fenomena meningkatnya wisatawan mancanegara menguatkan posisi Kota Malang sebagai destinasi budaya kreatif dunia. Selain berdampak langsung pada ekonomi warga, kunjungan yang berkelanjutan ikut memperkuat ekosistem budaya lokal.
Kampung tematik dan kampung budaya kini tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang belajar, riset, dan pertukaran budaya internasional yang terus berkembang.(fry)
