Malang – Kota Malang menyimpan sejarah panjang perkembangan koperasi di Indonesia. Fakta itu kembali terungkap setelah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya menemukan catatan keberadaan Koperasi Tumapel, sebuah koperasi sekunder besar yang berdiri pada 1932 di masa Hindia Belanda.
Koperasi Tumapel tercatat menaungi sekitar 56 koperasi primer di wilayah Malang dan sekitarnya. Temuan ini dianggap sebagai bukti bahwa gerakan koperasi di Malang telah berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka.
Bangunan Koperasi Masih Berdiri
Ketua PWI Malang Raya, Cahyono, menjelaskan bahwa bangunan bekas kantor Koperasi Tumapel masih berdiri hingga hari ini. Meski kini beralih fungsi menjadi kantor salah satu kementerian, nilai sejarahnya tetap kuat.
“Ini membuktikan bahwa Malang pernah memiliki koperasi besar yang terorganisasi rapi pada era kolonial. Sejarah ini harus menjadi inspirasi bagi gerakan koperasi modern,” ujar Cahyono seperti dikutip Jatimupdate.id pada Selasa, (2/12/2025).
Lokasi bangunan diduga berada di kawasan Jalan Kawi yang pada masa kolonial dikenal sebagai Kawi Street. Peneliti Sygma Research and Consulting (SRC), Yuristiarso Hidayat, menyebut bangunan tersebut kini digunakan sebagai kantor ATR/BPN Kabupaten Malang, meski verifikasi lanjutan tetap diperlukan.
Dorongan Revitalisasi Koperasi Masa Kini
Terinspirasi oleh catatan sejarah itu, PWI Malang Raya berkomitmen mendukung pengembangan koperasi modern di wilayah Malang. Tidak hanya sebagai peliput, PWI ingin menjadi bagian dari ekosistem penguatan ekonomi lokal.
Upaya tersebut termasuk mendorong pembentukan koperasi wartawan, penguatan koperasi komunitas, hingga dukungan terhadap program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Media memiliki peran strategis, bukan hanya menyebarkan informasi tetapi juga mengambil bagian dalam pembangunan ekonomi berbasis kebersamaan,” ujar Cahyono.
Sejarah sebagai Modal Penguatan Ekonomi Lokal
Peneliti SRC, Yuristiarso Hidayat, menilai keberadaan Koperasi Tumapel menjadi bukti kuat bahwa ekonomi gotong royong telah melekat dalam masyarakat Malang sejak lama.
“Koperasi Tumapel menunjukkan bahwa Malang memiliki sejarah ekonomi kolektif yang kuat. Jejak ini harus diterjemahkan ke dalam gerakan koperasi baru yang relevan dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
PWI Malang Raya dan SRC berharap penelusuran sejarah koperasi ini menjadi pijakan untuk membangkitkan kembali semangat koperasi di Malang Raya, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.(fry)
Koperasi Tumapel, Jejak Koperasi Era Hindia Belanda yang Menguat di Kota Malang
