Graha Yakusa di Kelurahan Banjarejo, Kota Malang, kini semakin dikenal sebagai rumah belajar bagi para aktivis muda yang ingin memperdalam kajian sosial, politik, hingga pengabdian masyarakat. Lembaga yang didirikan oleh tokoh muda Malang, Muhlis Ali, ini berkembang menjadi pusat kaderisasi yang konsisten mencetak calon pemimpin dengan basis intelektual dan gerakan yang kuat.
Rumah Pembibitan Aktivis dengan Pendekatan Komunitas
Sejak berdiri, Graha Yakusa menjalankan model pendidikan nonformal berbasis komunitas. Bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga inkubator gagasan yang melibatkan mahasiswa, pemuda, dan relawan dari berbagai daerah.
Muhlis Ali menjelaskan bahwa Graha Yakusa dirancang sebagai tempat tumbuhnya ekosistem intelektual yang membumi.
“Kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap persoalan sosial, tapi juga mampu menawarkan solusi. Aktivis itu tidak cukup lantang, ia harus punya gagasan,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan diskusi, pelatihan advokasi, hingga mentoring kepemimpinan di tempat ini menarik perhatian banyak komunitas kepemudaan dari luar Malang. Tidak sedikit peserta yang kemudian melanjutkan kiprah sebagai penggerak organisasi, pendamping masyarakat, hingga masuk dalam struktur kepemimpinan daerah.
Muhlis Ali: Pendiri yang Konsisten Merawat Gerakan

Sebagai pendiri sekaligus pengelola, Muhlis Ali dikenal tekun mendampingi proses kaderisasi. Latar belakangnya sebagai aktivis kampus, peneliti isu sosial, hingga fasilitator pemberdayaan membuatnya mudah diterima berbagai kalangan.
Ia menegaskan bahwa Graha Yakusa dibangun bukan untuk menjadi organisasi politik, tetapi ruang pembelajaran yang independen.
“Anak-anak muda butuh ruang aman untuk belajar, salah, bangkit, dan tumbuh. Di sinilah tempat mereka diuji dan ditempa,” tuturnya.
Di bawah kepemimpinannya, Graha Yakusa tetap menjaga prinsip keterbukaan. Siapa pun boleh datang, berdiskusi, dan ikut belajar tanpa harus membawa identitas organisasi tertentu.
Magnet Baru Aktivis dari Berbagai Daerah
Nama Graha Yakusa semakin meluas setelah beberapa alumninya mulai menonjol di berbagai bidang—mulai dari pemerhati kebijakan publik, jurnalis, fasilitator desa, hingga penggerak isu HAM dan lingkungan.
Beberapa komunitas luar kota bahkan rutin mengirimkan peserta untuk mengikuti kelas dan diskusi di tempat ini. Metode belajarnya yang santai namun kritis membuat banyak anak muda merasa nyaman untuk menggali potensi diri.
Menurut Muhlis Ali, pendekatan personal adalah kunci keberhasilan Graha Yakusa.
“Setiap anak muda datang dengan cerita dan latar berbeda. Tugas kami bukan membentuk mereka menjadi sama, tapi membantu menemukan arah terbaik yang sesuai potensi masing-masing,” jelasnya.
Menjadi Pusat Ide dan Kolaborasi
Selain kegiatan internal, Graha Yakusa juga aktif menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan, komunitas riset, hingga organisasi sosial. Mereka rutin menggelar forum bulanan yang membahas isu aktual seperti transformasi sosial, kebijakan publik, pergerakan mahasiswa, hingga strategi advokasi modern.
Pendekatan kolaboratif inilah yang menjadikan Graha Yakusa dipandang sebagai “magnet baru aktivis nasional”, bukan hanya ruang diskusi lokal.
Menuju Lembaga Kaderisasi yang Lebih Berpengaruh
Ke depan, Graha Yakusa tengah menyiapkan program pengembangan yang lebih terstruktur—mulai dari leadership training, kelas literasi kebijakan, hingga laboratorium advokasi yang akan melibatkan berbagai pakar dari dalam dan luar Malang.
Muhlis Ali berharap Graha Yakusa bisa menjadi bagian dari lahirnya generasi pemimpin baru Indonesia.
“Kalau kita ingin bangsa ini maju, anak muda harus punya tempat untuk belajar memimpin. Graha Yakusa berkomitmen untuk itu,” tegasnya.
