Malang – Budaya lokal Jawa tidak hanya hidup melalui kesenian pertunjukan, tetapi juga melekat kuat dalam busana adat yang sarat makna filosofis. Udeng bagi laki-laki dan kerudung bagi perempuan bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol identitas, etika, dan tatanan sosial yang diwariskan lintas generasi.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sinau Budaya yang digelar di Kampung Budaya Polowijen (KBP) pada Minggu, 25 Januari 2026, dan diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pendidik.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara nilai-nilai tradisi Jawa dengan cara pandang generasi masa kini.
Dari sisi pelestarian budaya,
Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, menegaskan bahwa udeng dan kerudung pada masyarakat Jawa tempo dulu memiliki fungsi sosial yang jelas.
Melalui peragaan langsung, ia menjelaskan bahwa cara mengenakan kerudung dapat menunjukkan status perempuan, apakah masih gadis, telah dipinang, bersuami, atau janda. Sementara pada laki-laki, perbedaan bentuk udeng—seperti jingkengan dan kemplengan—mencerminkan usia, peran, dan kedewasaan sosial.
Menurut Ki Demang, filosofi di balik busana kepala tersebut menekankan pengendalian diri dan keseimbangan batin. “Udeng mengikat pikiran agar tidak liar, sedangkan kerudung menjaga rasa dan etika perempuan Jawa,” jelas pria bernama asli Isa Wahyudi itu. Nilai ini, menurutnya, semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistik.
Namun dari sudut pandang generasi muda dan dunia pendidikan, kegiatan ini juga membuka ruang refleksi baru. Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pemahaman yang berbeda tentang budaya Jawa yang selama ini kerap dianggap kuno atau terbatas pada simbol-simbol seni tertentu.
Mahasiswi Pascasarjana Unesa sekaligus guru SDN Bumiayu 2 Kota Malang, Sinahika Sajar, mengungkapkan bahwa kunjungannya ke KBP melampaui ekspektasi. Ia menilai, pembelajaran budaya di KBP tidak hanya bersifat historis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual. “Ternyata busana adat pun mengandung pesan pendidikan karakter yang kuat,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Desfian Ahmad Saputra, Koordinator KKN Tematik UMM Kelompok 14. Ia menilai KBP sebagai ruang belajar alternatif yang efektif untuk menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.
Menurutnya, setiap materi yang dipelajari selalu memiliki dimensi filosofis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia bahkan menyatakan kesiapan kelompoknya untuk mengenakan busana adat sebagai bentuk nyata kecintaan terhadap tradisi Jawa.
Kegiatan Sinau Budaya ini turut diramaikan oleh penampilan Tari Bekalan Putri Malang dari siswi SMPN 9 Malang, serta dihadiri mahasiswa IKIP Budi Utomo Jurusan Sejarah dan Sosiologi, mahasiswa Pascasarjana Unesa, dan peserta KKN Tematik UMM Berdampak.
Melalui pertemuan lintas generasi ini, Kampung Budaya Polowijen kembali menegaskan perannya sebagai jembatan antara warisan leluhur dan realitas masa kini—bahwa tradisi tidak untuk ditinggalkan, melainkan dimaknai ulang agar tetap hidup dan relevan. (aln)
