Ngopini

CEPAT REVISI, JANGAN DIBUAT GADUH Pengelompokan NU di organisasi “Radikal”

Beberapa hari ini publik NU dikejutkan dengan temuan buku ajar SD/MI kelas V, yang didalamnya mengelompokkan NU di organisasi radikal, bersama PKI. Pengelompokan ini dimasukkan dalam periodisasi yang ditulis sebagai masa radikal antara tahun 1920-1927. Tanpa bermaksud suudzon pada penulis buku, namun sangat kentara sekali ada penggiringan opini seolah-olah NU adalah organisasi radikal bersama PKI. Padahal ketika NU lahir, meski membawa semangat non-cooperative yang artinya tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda alias penjajah, adalah organisasi masa keagamaan bukan organisasi politik. Disamping tahun-tahun itu juga banyak organisasi keagamaan lain yg non cooperative yang lahir sebelum tahun 1920 dan juga setelah tahun 1927. Ada Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Perti, Al washliyah dll, namun kelahirannya tidak diperiodisasi itu, dari situ saja sudah menunjukkan pemaksaan periodisasi dan ketidakcermatan penulis buku ajar tersebut.

Menurut penulis, kemendikbud RI perlu membuat aturan main setiap buku yang akan disebarkan baik cetak maupun online khususnya buku untuk konsumsi sekolah/madrasah untuk dibedah terlebih dahulu dengan melibatkan seluruh stakeholders pendidikan. Sehingga peristiwa-peristiwa seperti tidak terulang kembali.

Terkait dengan pemuatan organisasi keagamaan yang masuk dalam pengelompokan organisasi radikal perlu segera direvisi, biar tidak menimbulkan kegaduhan.

Pengelompokan dan periodisasi yang ditulis dalam buku tersebut menunjukan lemahnya kompetensi penulis buku dalam memahami sejarah, dan serampangnya penyusunan buku ajar tersebut.

Penulis melalui berbagai mass media, dua hari ini meminta Kepala Kurikulum dan Perbukuan Nasional utk menjelaskan hal tersebut kepada publik secepatnya, menarik buku yang sudah tersebar, dan merevisi sesuai dengan kurikulum yang benar.

Partai Politik harus dikelompokkan dengan partai politik, ormas keagamaan harus dikumpulkan dengan ormas keagamaan. Sementara ditulisan itu NU sendirian dicampur aduk dengan partai politik. Istilah radikal dihapus, supaya tidak menimbulkan syak wasangka yang tidak perlu.

Namun kita tidak perlu memanaskan suasana, cukup kita protes ke pusat kurikulum dan perbukuan nasional Kemendikbud RI untuk menarik semua buku yang tidak tepat tersebut. dan merevisi sesuai dengan sejarah yang tepat termasuk periodisasi dan pengelompokannya.

Kita sikapi dengan kepala dingin, dan tindakan yang terukur. Supaya tidak jadi komoditas politik yang digoreng sana sini, yang hanya merugikan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penulis : Dr. Hasan Abadi, Rektor Unira Malang

Comment here