Kamis, 24 November 2022
spot_img

Mengapa Universitas Kelas Dunia Menganggap Penting Peranan Ekstrakurikuler dan Kepemimpinan dalam Tahapan Seleksinya? 

Sekilasmalang.com, Nasional – Mengapa Universitas Kelas Dunia Menganggap Penting Peranan Ekstrakurikuler dan Kepemimpinan dalam Tahapan Seleksinya? 

Jakarta, 24 September 2022 – Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang menaungi beberapa universitas terbaik dunia–mulai dari universitas-universitas Ivy League (Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Perguruan Tinggi Dartmouth, Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale) hingga Universitas Oxford serta Universitas Cambridge yang tergolong sebagai universitas tertua di dunia–kerap menjadi destinasi favorit orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya, tidak terkecuali para orang tua Indonesia. Universitas-universitas tersebut dikenal memiliki sarana dan prasarana yang tidak sekadar memadai, melainkan berlimpah. Selain jaringan alumni yang ekstensif dan reputasi universitas yang menjanjikan segudang peluang berkarier, adanya laboratorium riset dengan teknologi termutakhir yang kaya akan inovasi, tenaga pengajar berpengalaman yang telah meraih berbagai penghargaan, hingga ratusan lembaga kemahasiswaan yang inklusif dan mampu memayungi keragaman mahasiswanya pun menghasilkan daya tarik tinggi. 

Namun, menembus universitas kelas dunia bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap tahunnya, universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris menerima puluhan ribu aplikasi dari seluruh dunia dan hanya meloloskan sebagian kecilnya. Sebagai contoh, pada tahun ajaran 2022 ini, Harvard University hanya menerima 4,59% dari 42.749 pelajar yang melamar. Beratnya kompetisi menjadi pemicu utama bagi pelajar-pelajar berprestasi seluruh dunia untuk membangun profil yang sebaik-baiknya. Namun, prestasi akademis saja tidaklah cukup untuk menjamin keberhasilannya. 

Dalam kegiatan Extracurricular & Leadership Building Profile Seminar with Crimson Education yang berlangsung di Goodrich Suites Artotel Portfolio (24/09) di bilangan Jakarta Selatan, Lyn Han, seorang Former Alumni Interviewer di University of Chicago dan US University Admissions Strategist memberikan penjelasan mengenai skema seleksi universitas penerimaan di AS dan Inggris yang bersifat holistik. “Dalam menyeleksi semua calon mahasiswanya, universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris tidak hanya menilai pencapaian akademis, tetapi juga kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan, serta kepribadian calon mahasiswa yang tersirat melalui penulisan esai dan wawancara. Selama ini, ada anggapan yang kuat bahwa pelajar yang memiliki nilai rapor sempurna pasti bisa menembus universitas unggulan seperti Harvard University atau University of Oxford. Pencapaian akademis memang penting, tetapi bukan golden ticket yang dapat menjamin keberhasilan seseorang dalam menembus universitas kelas dunia,” jelas Lyn Han. 

Dengan pendekatan holistik yang memungkinkan calon mahasiswa dinilai secara utuh, bakat dan minatnya pun menjadi penting untuk penilaian dalam seleksi penerimaan universitas. Vanya Sunanto, Country Manager, Indonesia di Crimson Education memaparkan bahwa adanya perbedaan antara pendekatan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung mengutamakan pencapaian akademis dengan sistem pendidikan di AS dan Inggris yang cenderung holistik inilah yang dijembatani oleh Crimson Education melalui layanan konsultasi dan bimbingan seleksi penerimaan universitas di AS dan Inggris. “Di Crimson, kami selalu mengawali layanan kami dengan menggali segala sesuatu tentang calon siswa kami, mulai dari bakat, minat, kelebihan, kekurangan, aspirasi, hingga cita-cita yang ingin ia capai. Dengan analisis yang menyeluruh, kami tidak hanya merancang rencana akademis yang terpersonalisasi dan memberikan bimbingan akademis, tetapi juga bimbingan non-akademis yang mencakup pengembangan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan, penulisan esai, dan persiapan wawancara. Semuanya kami lakukan secara strategis dan statistik kami telah membuktikan bahwa pendekatan ini memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada pendekatan yang semata-mata mengandalkan pencapaian akademis,” jelas Vanya Sunanto. 

Menurut Vanya Sunanto, profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang kuat dapat dibangun dari ide yang sederhana atau bahkan kegemaran pribadi, selama disertai dengan konsistensi. Vanya Sunanto menceritakan, “Kami memiliki seorang alumnus yang sejak kecil gemar merakit slot car, karena kegemaran tersebut membangun hubungan yang kuat antara ia dengan ayahnya. Setelah menggemari slot car selama bertahun-tahun, tumbuhlah ketertarikan terhadap engineering dalam dirinya. Ia mulai bercita-cita untuk memelajari engineering pada tingkat perguruan tinggi. Namun, selain mengambil beberapa kursus singkat, ia tidak memiliki pencapaian besar untuk memperkuat profilnya dalam seleksi penerimaan universitas di AS maupun Inggris. Setelah mendaftar layanan Crimson, kami membimbingnya untuk aktif berkompetisi, menjuarai kompetisi-kompetisi yang ia ikuti, dan meluncurkan inisiatif podcast dengan menghadirkan pakar-pakar engineering sebagai tamunya. Alhasil, ia diterima di Imperial College London, University of Leicester, University of Nottingham, University of Southampton, UC Berkeley, dan Purdue University sekaligus. Melihat keberhasilan seorang pelajar Indonesia seperti itu benar-benar membanggakan.” 

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendekatan holistik dalam sistem pendidikan AS dan Inggris ini mungkin dipandang unik di mata sebagian besar masyarakat Indonesia dan menimbulkan sebuah pertanyaan: apa yang sebenarnya dicari oleh universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris dalam diri calon mahasiswanya hingga membuat profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan turut menjadi pertimbangan? 

Dalam seleksinya, universitas-universitas unggulan di AS menilai semua calon mahasiswanya berdasarkan tiga hal utama: pencapaian akademis (dengan bobot penilaian sebesar 40%); profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan (dengan bobot penilaian sebesar 30%); serta esai dan wawancara (dengan bobot penilaian sebesar 30%). Universitas-universitas tersebut tidak mencari mahasiswa yang sekadar cemerlang secara akademis, melainkan mahasiswa yang cerdas, kreatif, berinisiatif tinggi, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka mencari sosok yang memiliki semangat untuk menciptakan perubahan di dunia. Di sinilah peranan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan dalam memperkuat aplikasi calon mahasiswa. Kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang terbukti membawa manfaat atau memberikan dampak sosial, meskipun pada skala kecil, akan semakin memberikan nilai lebih.

Sedikit berbeda dengan AS, universitas-universitas unggulan di Inggris memiliki kecondongan mencari sosok akademisi yang teguh menjunjung ilmu pengetahuan, sehingga bobot penilaian dalam tahapan seleksinya pun berbeda. Pencapaian akademis memiliki bobot penilaian sebesar 75%, sedangkan bobot penilaian profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan adalah 15%, dan 10% sisanya merupakan bobot penilaian esai dan wawancara. Kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan untuk seleksi penerimaan universitas di Inggris pun tidak dapat dipilih secara sembarang, melainkan harus memiliki keterkaitan dengan program studi yang diminati. Anderson Tan, Extracurricular & Leadership Mentor yang turut hadir dalam seminar yang berlangsung selama dua jam tersebut menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang pelajar Indonesia yang berhasil menembus universitas unggulan di Inggris dan menempuh bidang studi PPE (Philosophy, PoIitics, and Economics). “Sejak kecil, saya menggemari video game yang berlatar belakang sejarah. Diplomasi juga menjadi topik yang saya sukai. Ketika saya berusia 14 tahun, saya mulai aktif mengikuti konferensi MUN (Model United Nations). Berpartisipasi aktif dalam konferensi MUN mengharuskan saya untuk banyak membaca berita dan buku yang berkaitan dengan hubungan internasional, sejarah, dan politik. Saking senangnya saya membaca kumpulan berita dan buku-buku tersebut, tanpa saya sadari saya sudah menyelesaikan 20-30 buku dalam waktu singkat. Dalam esai yang saya tulis sebagai bagian dari aplikasi UCAS (Universities and College Admissions Service), saya mengutip, beropini, dan bahkan mengkritik buku-buku yang saya baca–inilah yang menunjukkan ketertarikan saya terhadap hubungan internasional dan tingginya antusiasme saya untuk dapat memelajarinya secara mendalam,” ungkap Anderson Tan. 

Setiap pelajar, dengan berbekal motivasi, kesempatan, dan dukungan orang tua, pasti dapat mendalami bakat atau minatnya sehingga bakat atau minat tersebut menjadi sebuah kegiatan yang menghasilkan dampak positif. Selanjutnya, dengan bimbingan dari pakar pendidikan berpengalaman, kegiatan tersebut dapat bertransformasi menjadi profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang kuat untuk mengantarkannya menuju universitas kelas dunia. 

“Mematangkan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan membutuhkan konsistensi serta komitmen jangka panjang, sehingga waktu yang tepat bagi pelajar Indonesia untuk memulai adalah sedini mungkin dan Crimson Education hadir di Indonesia untuk menjawab kebutuhan tersebut. Tentu saja, kami juga siap memberikan bimbingan akademis, penulisan esai, hingga persiapan wawancara. Dengan bimbingan yang tepat, kami percaya banyak pelajar berbakat dan berprestasi dari Indonesia yang akan mampu bersaing di kancah global,” tutup Vanya Sunanto. 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,590PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles