KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen: Etalase Kerajinan Tradisional Malang dan Potensi Ekonomi Kreatif Lokal


Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menjadi ruang belajar hidup bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada Selasa, 3 Februari 2026, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 melaksanakan kegiatan Sinau Budaya dengan fokus pada pengenalan ragam kerajinan tradisional khas Malang sebagai warisan budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif berbasis lokal.


Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual mahasiswa untuk memahami budaya tidak hanya sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai identitas yang terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan zaman.


Mengenal Kerajinan Tradisional Malang dari Aspek Budaya dan Ekonomi


Materi bertajuk “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” disampaikan oleh Ibu Sulaihah, S.Sos., S.Pd, pelaku seni dan penggiat budaya.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional Malang, mulai dari batik Malangan, topeng Malangan, keramik Dinoyo, gerabah Betek, payung kertas, wayang, kendang, hingga anyaman bambu dan rotan.


Menurutnya, setiap kerajinan lahir dari keterampilan tangan pengrajin yang diwariskan lintas generasi dan sarat nilai filosofis. Namun di sisi lain, kerajinan tradisional juga memiliki nilai jual dan daya saing jika dikemas dengan pendekatan kreatif dan strategi pemasaran yang tepat.


“Kerajinan tradisional bukan hanya benda estetik, tapi cermin cara pandang hidup masyarakat. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada bentuk, tetapi juga pada nilai dan ruhnya,” ujar Ibu Sulaihah.


Ia juga membagikan pengalaman perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan kerajinan lokal ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal Malang mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan identitas aslinya.


Belajar Budaya Langsung dari Pelaku Lokal


Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen. Ia menekankan pentingnya proses belajar budaya secara langsung bersama masyarakat.


“Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo.


Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga berdialog tentang tantangan regenerasi pengrajin, pemasaran produk budaya, hingga peran media digital dalam pelestarian budaya.


Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, menanyakan strategi penentuan target pasar untuk kerajinan tradisional di tengah persaingan produk modern.


“Materi disampaikan dengan menyenangkan dan mudah dipahami. Kami jadi sadar bahwa kerajinan tradisional bukan hanya soal seni, tetapi juga peluang ekonomi dan identitas daerah,” ungkapnya.


Produksi Konten Budaya dan Kuliner Tradisional Malang


Selain kegiatan Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga aktif memproduksi konten budaya berbasis digital. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan, sebagai bagian dari edukasi budaya menjelang Hari Raya Idulfitri.


Tak hanya itu, pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, dan aneka jajanan pasar turut diangkat sebagai upaya mengenalkan kembali kuliner tradisional Malang yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan menjadi arsip digital budaya sekaligus media promosi kreatif.


Belajar Kearifan Lokal Lewat Praktik Bangunan Tradisional


Rangkaian kegiatan ditutup dengan praktik langsung pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan kaya nilai kearifan lokal. Mahasiswa diajak memahami bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan alam secara berkelanjutan.


Budaya sebagai Identitas dan Investasi Masa Depan


Melalui KKN Tematik ini, mahasiswa UMM tidak hanya belajar tentang budaya Malang, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, sumber pengetahuan, dan potensi ekonomi masa depan. Dengan pendekatan edukatif dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat berkontribusi dalam menjaga agar budaya lokal Malang tetap hidup, adaptif, dan dikenal luas oleh generasi selanjutnya. (fbr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *