Jumat, 3 Februari 2023
spot_img

Kejahatan Remaja Karena Pengaruhnya Lingkungan Sosial

Sekilasmalang.com, Ngopini – Perubahan sosial dan budaya yang semakin kompleks dan dinamis merupakan ciri perkembangan masyarakat akhir-akhir ini. Akibat perubahan tersebut yang relatif cepat ialah adanya perubahan konsep tingkah laku dan perbuatan. Perubahan konsep tingkah laku dan perbuatan ini pula dampaknya terjadi pada remaja, sehingga mereka kelihatan radikal dan agresif. Sehingga pengaruh lingkungan tidak dapat kita abaikan begitu saja, karena lingkungan memiliki peranan penting dalam memberi pengaruh terhadap kepribadian seseorang.

Kejahatan adalah fenomena sosial yang timbul dan berkembang dalam masyarakat sehingga kejahatan yang pada hakekatnya suatu budaya manusia (as old as man kind itself) sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka kejahatan berkembang semodern budaya manusia itu sendiri (as modern as man kind itself). Dengan demikian, dapatlah ditarik suatu pendapat yang fundamental, bahwa kejahatan akan senantiasa berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.

Terdapat berbagai macam bentuk atau jenis kejahatan yang dilakukan oleh para remaja. Kejahatan yang dilakukan remaja akhir-akhir ini tentu sangat memprihatinkan dari tahun ke tahun. Secara Intens, jenis kejahatan yang dilakukan oleh remaja ditunjukkan Crime Index yaitu: pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, penipuan, penganiayaan berat, penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya, serta kejahatan susila.

Penyebab berbagai kejahatan remaja tersebut disebabkan karena dua faktor, yaitu faktor internal (diri sendiri) dan eksternal (lingkungan). Faktor internal yang terjadi pada diri remaja terbagi menjadi dua, yaitu: pertama, remaja seringkali jatuh dalam krisis identitas (dalam mencari jati diri) yang membuat mereka terdorong untuk melakukan tindakan kriminal. Kedua, kontrol diri remaja yang lemah. Sehingga remaja tidak dapat membedakan mana perbuatan baik dan buruk yang membuat dirinya mudah sekali terpengaruh untuk berbuat nakal.

Selain faktor internal, kejahatan remaja juga terjadi karena faktor eksternal. Pertama, faktor keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh seseorang sejak Ia lahir dan merupakan suatu lingkungan yang sangat berperan penting dalam melakukan edukasi serta pengetahuan agama yang kuat agar kelak anaknya pada saat beranjak remaja dapat memiliki kontrol diri yang kuat. Keluarga yang tidak harmonis seperti perceraian kedua orang tua, tidak adanya komunikasi yang baik di dalam keluarga, dan kelarga yang dirundung perselisihan, maka akan memicu perilaku negatif pada diri remaja. Kedua, karena faktor lingkungan sosial. Jika lingkungan tempat Ia tinggal merupakan lingkungan yang rawan kejahatan, maka potensi seorang anak untuk melakukan tindak kejahatan juga akan semakin besar. Ketiga, pergaulan terhadap teman sebaya juga menjadi faktor utama bagi seorang remaja untuk melakukan tindak kejahatan. Keempat, baik buruknya kepribadian seorang remaja dipengaruhi dari tingkat pendidikan remaja tersebut. Kelima, kejahatan remaja terjadi juga karena masuknya kebudayaan luar yang tidak sesuai dengan adat dan norma yang berlaku di Indonesia. Seharusnya para remaja dapat menyaring kebudayaan luar tersebut dan bahkan tidak perlu untuk mengikutinya apabila tidak sesuai dengan norma.

Gambar : Sumber Google

Jenis kejahatan remaja di atas,  memerlukan evaluasi kebijakan penanggulangan yang selama ini ditempuh. Berbagai upaya penangggulangan telah banyak dilakukan, tetapi hanya menyangkut tindakan Kepolisian, bukan pada perbaikan kondisi atau sebab-sebab yang menimbulkan kejahatan itu sendiri. Jadi kebijakan yang diambil hanya kebijakan yang parsial saja tidak menyentuh kepada akar permasalahan yang menimbulkan kejahatan. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh polisi dengan melakukan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) yang merupakan operasi rutin ditingkatkan lagi, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, Operasi Khusus Kepolisian di berbagai daerah yang ada di Indonesia, misalnya Kendali Pusat dalam pelaksanaannya melakukan penaggulangan kejahatan yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa belum mampu menekan atau mengurangi kejahatan.

Berangkat dari pandangan serta pengkualifikasian kejahatan yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, maka kebijakan penanggulangan kejahatan yang dilakukan juga menggunakan cara-cara yang di luar prosedural formal peradilan. Maksudnya adalah terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa ini penyelesaian senantiasa mempertimbangkan berbagai aspek, baik ditinjau dari aspek kepastian hukum, kepentingan hukum, dan kepentingan pelaku kejahatan. Berbicara mengenai pencegahan dan penanggulangan kejahatan (PPK) utamanya bagi kepolisian tentunya bukan hal yang baru bagi praktisi, bahkan sudah merupakan pekerjaan rutin sehari-hari.

Selain cara di atas, ada dua cara lagi yang dapat dilakukan untuk menekan timbulnya perilaku kejahatan remaja. Pertama, melakukan usaha preventif. Usaha tersebut dilakukan dengan cara memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak, meningkatkan kesejahteraan keluarga, mendirikan tempat pengembangan kreasi dan inovasi bagi remaja, mengembangkan perlengkapan olahraga bagi remaja, serta mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif guna memberikan pengetahuan terhadap tingkah laku. Kedua, dengan melakukan usaha kuratif. Usaha tersebut dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kepada para remaja untuk hidup teratur dan disiplin, memperbanyak program latihan peningkatan keterampilan, melakukan perubahan lingkungan tempat tinggal, memberikan fasilitas yang diperlukan untuk perkembangan jasmani dan rohani, serta menghilangkan atau menekan seminimal mungkin penyebab-penyebab timbulnya kejahatan remaja.

 

Penulis : Diyan Ranna Sarinah Amin Mahasiswi UM Jurusan Sastra Indonesia

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,695PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles