MALANG – Yayasan Citra Kebaya Indonesia (CKI) Malang meluncurkan motif batik khusus untuk jarik bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 2025. Peluncuran tersebut menjadi bagian dari talkshow bertajuk “Perempuan Berdaya dan Berkarya: Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar pada Selasa (23/12/2025) di Pendopo Kantor Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap peran perempuan dalam menjaga nilai sosial, budaya, sekaligus kontribusinya dalam pembangunan bangsa. Acara tersebut dihadiri berbagai komunitas perempuan, pelaku UMKM, perajin batik, serta perwakilan instansi pemerintah daerah.
Ketua Yayasan Citra Kebaya Indonesia Malang, Rini Pertiwi, menjelaskan bahwa peluncuran motif jarik CKI merupakan wujud komitmen organisasi yang telah berdiri selama lima tahun dalam melestarikan kebaya dan batik sebagai warisan budaya Indonesia.
“Pelestarian batik dan kebaya bukan sekadar busana, tetapi bagian dari menjaga jati diri bangsa sekaligus membuka ruang kreativitas dan penguatan ekonomi perempuan,” ujar Rini.
Sebelum talkshow dimulai, anggota CKI Malang dari berbagai wilayah di Kabupaten Malang mengikuti kegiatan membatik bersama hingga tuntas. Kegiatan tersebut dilaksanakan di area belakang Pendopo Kecamatan Pakisaji yang sekaligus difungsikan sebagai ruang utama acara.
Motif yang dibatik merupakan perpaduan motif khas CKI dengan motif Garudhea, yang telah dipatenkan sebagai motif Kabupaten Malang. Dalam kesempatan tersebut, CKI Malang secara resmi memperkenalkan motif jarik CKI yang sarat makna filosofis.
Motif jarik CKI mengangkat buah markisa sebagai simbol ketangguhan dan kemampuan adaptasi manusia dalam berbagai kondisi kehidupan. Filosofi ini mencerminkan harapan agar perempuan mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Selain itu, motif melati putih yang menjadi puspa bangsa melambangkan kesucian niat, ketulusan, serta keanggunan budi perempuan Indonesia. Elemen gunungan yang digambarkan naik turun merepresentasikan dinamika kehidupan—jatuh dan bangkit—sekaligus mengajarkan nilai keseimbangan dan kebijaksanaan.
Sementara itu, kupu-kupu dimaknai sebagai simbol transformasi dan pembaruan diri menuju kedewasaan dan keindahan. Seluruh filosofi motif tersebut dipertegas melalui logo CKI yang menampilkan sosok Kartini berkonde, dipadukan dengan batik salur khas Malang sebagai simbol regenerasi nilai budaya lintas generasi.
Talkshow ini menghadirkan Hanik Dwi Martya P., S.Farm., M.AP sebagai keynote speaker serta Ir. Nila Wardani, Direktur Ruang Mitra Perempuan (RMPUN), sebagai guest speaker. Selain diskusi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan membatik bersama Jayanti Batik Malang, bazar UMKM, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Pendopo Kantor Kecamatan Pakisaji dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai representatif, mudah diakses, dan strategis bagi masyarakat dari berbagai desa di Kabupaten Malang.
Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Kecamatan Pakisaji, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Malang, Srikandi Pemuda Pancasila Kota Malang, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia Malang, Perempuan Hindu Dharma Indonesia, serta Komunitas Jantung Sehat.
Di lokasi terpisah, semarak peringatan Hari Ibu juga ditandai dengan Parade Kebaya dan Berkain yang diselenggarakan Komunitas Cinta Berkain Indonesia Malang Raya di Malang Town Square (Matos). Kegiatan ini diikuti lebih dari 70 peserta yang menampilkan parade dan catwalk berkebaya, dinilai oleh juri dari berbagai komunitas perempuan di Malang.
Suguhan tari-tarian daerah khas Malang turut menghidupkan suasana, menjadikan rangkaian kegiatan peringatan Hari Ibu di Malang berlangsung meriah dan sarat pesan pelestarian budaya. (*)
