Jumat, 3 Februari 2023
spot_img

AKUNTANSI ZAKAT SEBAGAI AKUNTABILITAS DAN TRANSPARASI PADA LEMBAGA LAZISMU

Sekilasmalang.com, Ngopini – Aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari berbagai hal. Karena manusia makhluk sosial yang dimana manusia selalu berinteraksi dengan sesama, alam, dan sang pencipta. Penjelasan tersebut merupakan pengertian muamalah. Salah satu muamalah dalam islam adalah kegiatan ekonomi. Islam dalam menerapkan praktik ekonomi harus sesuai dengan aturan-aturan dan prinsip islam yang telah ditetapkan. Hal inilah yang disebut dengan ekonomi islam. Prinsip-prinsip ekonomi islam merupakan bagunan ekonomi yang berdasarkan lima nilai, yaitu tauhid (keimanan), ‘adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah) dan ma’ad (hasil). Dari prinsip-prinsip tersebut yang telah diuraikan, maka dibentuk suatu konsep untuk melingkupi secara keseluruhan, yaitu konsep Akhlak. Akhak merupakan tingkah laku seseorang yang didorong oleh keinginan yang secara mendasar utnuk melaukan sesuatu untuk mendapatkan keinginannya.

Salah satu contoh kegiatan ekonomi islam adalah zakat. Zakat menurut etimologi merupakan kata yag berasal dari kata zaka yang berarti suci, berkah, baik, tumbuh dan berkembang. Sedangkan menurut terminologi zakat merupakan syara’ yang berarti suatu hak yang wajib dikeluarkan atau kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerima dengan ketentuan dan syarat tertentu. Zakat menurut peryataan PSAK No. 109 merupakan harta yang wajib dikeluarkan oleh pihak muzakki (seorang muslim atau lembaga yang memiliki harta) sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah untuk diberikan kepada orang yang berhak menrimanya (mustahiq). Hubungan diantara pengertian zakat menurut etimologi dan terminologi sangat erat, yaitu bahwa suatu harta yang dikeluarkan akan menjadi tumbuh, berkembang, berkah dan bertambah suci. Zakat yang merupakan rukun islam ketiga memiliki suatu kewajiban dalam bidang harta yang tidak terpisah dari segala kemungkinan cacat dan cela pada saat memperolehnya. Oleh karena itu zakat merupkan alat pensuci dari harta kekayaan sehingga harta tersebut menjadi suci dan berkah.

Sementara itu, semakin tumbuh dan berkembangnya beberapa lembaga pengelolaan zakat di Indonesia telah menunjukkan bahwa pemerintah dam masyarakat mulai menyadari potensi penerimaan zakat yang semakin meningkat mengingat penduduk muslim Indonesia yang mencapai 87,2% atau sekitar 229 juta jiwa. Salah satu lembaga pengelolaan zakat adalah LAZISMU. LAZISMU merupakan lembaga zakat di tingkat nasional yang berkonsentrasi dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan secacra produktif pada dana zakat, infaq, wakaf hingga dana kedermawanan baik dari pribadi, lembaga, dan perusahaan lainnya.

LAZISMU berdiri dikarenakan dua faktor, yaitu fakta kemiskinan di Indonesia yang masih tinggi dan kebodohan serta indeks pembangunan manusiah masih sangat rendah. Hal tersebut disebabkan oleh tatanan keadilan sosial yang lemah. Selain itu dengan adanya zakat dapat diyakini menata keadilan sosial, pembangunan manusia dan mampu mengurang kemiskinan.Tujuan didirakan LAZISMU adalah sebagai pengelola zakat yang memiliki sistem manajemen yang modern sehingga dapat menghasilkan zakat sebagai sebagian dari penyelesaian masalah-masalah sosial masyarakat. Terdapat enam pilar program dari LAZISMU, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, dakwah, dan lingkungan. LAZISMU memiliki budaya kerja yang amanah, profesional dan transparan dan LAZISMU selalu berusaha mejadi lembaga pengelola zakat yang dapat dipercaya. Saat ini LAZISMU telah tersebar hampir seluruh Indonesia dan mampu menjaangkau hingga ke pelosok.

Sebagai lembaga pengelolaan zakat tentunya LAZISMU memerlukan laporan keuangan. LAZISMU harus melakukan pembukuan yang benar. Laporan keuangan sebagai salah satu faktor penting yang tidak dapat ditinggalkan oleh organisasi atau lembaga dalam aktivitas bisnisnya. Laporan keuanga digunakan untuk pengambilan keputusan dan memberikan informasi kepada para pemakai laporan keuangan serta sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja keuangan dari lembaga penegelola zakat dan hal tersebut akuntansi zakat berperan.

Akuntansi zakat berfungsi sebagai pencatatan dan pelaporan dari penerimaan dan pengalokasian zakat. Mengingat akan pentingnya dari akuntabilitas dan transparasi sebagai lembaga publik. Dimana akuntabilitas merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja atau tindakan dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan. Sedangkan transparasi adalah keterbukaan atas segala tindakan yang dilakukan oleh lemabaga publi tersebut. LAZISMU memerlukan standarisasi pelaporan keuangan agar publik dan para pemangku kepentingan dapat memantau, percaya, dan menilai kinerja keuangan. Seiring dengan hal tersbeut maka IAI mengeluarkan PSAK 109 yang efektif untuk mengatur akuntansi zakat sesuai dengan standar ketetapan yang berlaku.

Secara umum, PSAK 109 didukung oleh fatwa MUI, sehingga jenis transaksi yang diperbolehkan dan yang dilarang juga sesuai dengan fatwa terkait. Tata kelola keuangan yang baik perlu dapat dipertanggungjawabkan kepada publik agar muzzaki memiliki kepercayaan dalam menyetorkan zakat pada lembaga atau organisasi pengelola zakat.Tetapi, dalam penerapan masih ada beberapa lembaga pengelola zakat yang masih menggunakan akuntans konvensional. Beberapa lembaga amil yang masih menggunakan akuntansi konvensional, yaitu pada tingkat desa dan kelurahan.

Apabila beberapa lembaga amil belum menerapkan akuntansi zakat, akibatnya terdapat masalah dalam audit laporan keuangan lembaga amil tersebut. Padahal, audit adalah salah satu hal yang penting dalam meningatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat. Manajemen pengeluaran dana pada lembaga amil yang belum menerapkan akuntansi sangatlah sederhana. Singkatnya, mengakibatkan ketidak transparasinya laporan keuangan tersebut.

Kedudukan LAZISMU sebagai lembaga pengelola zakat seiring akan bertambah maju dan penting. Karena adanya kelemahan yang sering dijumpai adalah ketidak adanya manajemen zakat yang baik. Semakin majunya ekonomi, ilmu pengetahuan dan keyakinan maka muzakki juga akan semakin bertmabah begitupun dengan jumlah zakat yang juga akan menigkat. Dalam mencegah keadaan tersebut, maka LAZISMU harus dikelola dengan manajemen yang baik. Manajemen zakat pada dasarnya bukanlah masalah yang sederhana. Manajemen zakat membutuhkan informasi akuntansi dan sistem manajmen yan baik. Tanpa hal tersbeut maka pengelolaan zakat tidak akan efektif dan efisien.

Peranan akuntansi zakat pada salah satu lembaga pengelola zakat, yaitu LAZISMU dapat memberikan suatu informasi yang diperlukan dalam mengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf  secara tepat, efisien, dan efektif yang dipercayakan pada lembaga pengelola zakat dan ini berkaitan dengan pengendalian manajemen dalam kepentingan internalorgasi. Selain itu dapat memberikan suatu informasi yang memungkinkan untuk lembaga pengelola zakat dalam melaporkan pelaksanaan penggunana zakat, infak, sedekah, hibah, dan wakaf yang menjadi wewenangnya dan dapat melaporkan kepada publik terkait hasil operasi dan penggunaan dana publik serta hal ini beraitan dengan akuntabilitas.

Akuntansi zakat berkaitan dengan tiga hal, yaitu penyediaan suatu informasi, pengendalian dari manajemen, dan akuntanbilitas. Akuntansi zakat merupakan suatu informasi bagi majamenen dengan pihak yang berkepentingan dengan informasi tersbeut. Bagi pihak manajemen informasi akuntansi zakat digunakan untuk pengendalian manejemen mulai dari perencanaan dikarenakan sebagai pengambilan keputusan dalam mengalokasi zakat, pemebentukan dan pemilihan program yang efektif, apabila pemilihan dan pembentukan program tepat maka dapat mengalokasikan dana zakat yang diterima, evaluasi kinerja sebagai dasar penilaian kinerja, dan pelaporan kinerja keuangan tersbeut. Para manajemen akan kesulitan dalam pengukura kinerja jika tidak adanya indikator yang memeadai.

Pengelola LAZISMU harus memahami akuntansi yang memuat sistem, prosedur dan perlakuan-perlakuan akuntansi sebagai pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqoh.LAZISMU sebagai lembaga pengelola zakat harus mempunyai sistem akuntansi dan pelaporan yang terdiri dari dua bagian, yaitu untuk dana yang terbatas (zakat dan infaq) dan untuk dana yang tidak terbatas (shadaqah). Tetapi walaupun demikian sebagai kesatuan LAZISMU harus menyiapkan laporan keuangan komprehemsif untuk menggambungkan laporan keuangan kedua dana tersebut. Laporan keuangan LAZISMU harus terdiri dari neraca, laporan perubahan dana, lapran arus kas, laporan perubahan aset, dan catatan atas laporan keuangan. Neraca dan laporan penerimaan, pengeluaran dan perubahan dana merupakan gabungan dari dua dana tersebut, yaitu zakat dan shadaqah. Sedangkan untuk laporan posisi keuangan dan CALK sangat perlu ditambahkan menajdi laporan keuangan karena dapat menggambarkan kondisi keuangan pada LAZISMU. Pada CALK akan menjelaskan kebijakan akuntansi dan seluruh prosedur yang diterapkan oleh organisasi yang bersangkutan. Hal ini sesuai dengan PSAK No. 109 yang mengatur akuntansi zakat.

LAZISMU sebagai lembaga pengelola zakat sangat membutuhkan dukungan dari sistem akuntansi dan sinstem informasi manajemen yang bener-benar memeadai agar zakat dapat memiliki fungsi sosial yaitu mengurangi kesenjangan sosial dan sebagai kebijakan fiskal dalam memperhitungkan analisis ekonomi.

LAZISMU dalam membuat laporan keuangan harus menggunkan standar akuntansi zakat dengan sistem pembukuan yang benar dan transparan sesuai dengan PSAK 109 yang telah menjadi standar akuntansi dalam membuat laporan keuangan. Proses pembukuannya hampir sama dengan proses pembukuan akuntansi konvensional. Mulai dari pengumpulan bukti pembayaran, bukti penerimaan, melaukan penjrunalan, melakukan posting ke buku besar dan yang terakhir adalah membuat laporan keuangan untuk masing-masing jenis dana. Dikarenakan laporan keuangan merupakan laporan gabungan dari keseluruhan jenis laporan keuangan.

Penerapan PSAK 109 pada LAZISMU sebagai lembagai pengelola zakat merupkan sebuah bukti komitmen bahwa LAZISMU dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparasi dalam mengelola zakat. Tanpa adanya laporan keuangan yang  akuntabilitas dan transparan, dorongan para muzakki dalam membayarkan zakat pada LAZISMU atau lembaga pengelola zakat lainnya tersebut akan berkurang karena adanya kurang kepercayaan para muzakki dalam menyalurkan hartanya kepada mustahik yang berhak, walaupun sebenarnya membayar zakat merupakan suatu ibadah.

Oleh : Marsheilla Aisyah. R. Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Malang

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,695PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles