Acara

Deklarasi Kepanjen Kota Inklusif dan Ramah ABK, Komitmen Hadirkan Wajah Baru Pendidikan

Sekilasmalang.com, Kabupaten Malang – Deklarasi Kepanjen Kota Inklusif dan Ramah ABK, Komitmen Hadirkan Wajah Baru Pendidikan di Kabupaten Malang.

Deklarasi yang terselenggara atas inisiasi Rumah Belajar Inklusif MB3+ Sidotopo tersebut digelar pada Minggu (29/9) pagi, di Rumah Belajar Sidotopo, Jalan Sidotopo Kepanjen, Kabupaten Malang.

Mengusung tema Dolanan Bareng MB3+, tak kurang hadir 100 siswa ABK dan Non ABK se kecamatan Kepanjen, suasana deklarasi yang dibingkai dengan kegiatan dongeng serta parenting orang tua ABK tampak begitu meriah.

Deklarasi dilaksanakan pasca opening seremonial, membubuhkan tanda tangan pada sehelai kain putih bertuliskan “Deklarasi Kepanjen Inklusif dan Ramah Abk.”

Yang bertanda tangan dalam deklarasi tersebut antara lain, Ketua Yayasan Noor Kepanjen ( Sekolah Inklusif MB3+), Binti Kholilatus, Ketua Yayasan MI Amanah, Kentar Budhoyo, Ketua Lingkar Sosial, Ken Kerta, Ketua Yayasan Lentera Nusantara, Anwar, Tokoh Masyarakat Kepanjen, Bibit Suprapto, Kordinator Bidang Pendidikan Arek Kepanjen, Angga, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Difabel Kepanjen, Slamet, Ketua Pokja Difabel Pakisaji, Rojikin, Perwakilan Kapolres Malang Kasatbinmas Polres Malang, AKP Suyoto, Ketua Gerakan Perpustakan Anak Nusantara (GPAN) Chapter Kepanjen, Roni, Perwakilan UPTD Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Wahyu, Perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dewi Ruhaila, serta beberapa praktisi pendidikan inklusif lainnya.

Foto : Ketua Pokja Difabel Pakisaji, Rojikin saat tanda tangan deklarasi Kepanjen Inklusif.

Sementara, Binti Kholilatus yang merupakan penggagas deklarasi tersebut dalam sambutanya mengatakan bahwa dengan pembubuhan tanda tangan ini berarti telah terbangun komitmen bersama dalam rangka mengawal pendidikan yang inklusif dan ramah ABK terkhusus di Kepanjen.

Menurut guru yang karib disapa Bu Binti ini, pengawalan tersebut mencakup beberapa hal yang sering dialami ABK.

“Mulai dari sekarang, kita kampanye kan anti bulying,” kata Bu Binti memberi contoh. Karena menurut dia, tindakan bulying bisa sangat berdampak pada aspek psikologi anak. Terlebih, lanjut Bu Binti, dampaknya pada proses tumbuh kembang anak.

“Kalau sampai bulying dibiarkan, bisa muncul trauma dimasa dewasanya,” terangnya.

Lebih lanjut, Bu Binti menyebut bahwa tindakan preventif perlu dilakukan agar tindakan bulying bisa dicegah. Orang tua menurut Bu Binti masih menjadi pagar utama pencegahan perilaku bulying.

“Tidak hanya orang tua ABK, orang tua dari anak non ABK juga punya pengaruh penting,” terangnya.

Pemahaman terhadap bagaimana memperlakukan ABK selayaknya anak pada umumnya menurut Bu Binti perlu secara berlanjut dilakukan.

“Mari bersama bumikan pendidikan Inklusif dan ramah ABK,” ajak Bu Binti yang telah merintis Rumah Belajar Inklusif MB3+ sejak empat tahun lalu ini.

Sementara, Wiwi orang tua ABK yang mengikuti sesi parenting manyambut baik kegiatan semacam ini. Menurutnya, pemahaman terhadap berbagai jenis ABK bisa menjadi wawasan penting dalam menentukan perlakuan terhadap ABK itu sendiri.

“Biar nggak salah menangani anak, kegiatan seperti ini bagus,” kata Wiwi.

Lebih lanjut, Wiwi berharap ada tindak lanjut dan perhatian terhadap ABK. Sejalan dengan Binti, Wiwi juga sepakat mulai mengkampanyekan no bulying terhadap ABK dari diri sendiri.

“Saya setuju no bulying ABK, minimal kita awali dari diri kita sendiri,” tukas ibu yang sekaligus guru di salah satu lembaga plat merah ini.

Rangkaian kegiatan dolanan berakhir pada pukul 12.30. Dengan rincian, pagi penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Syauqul Qolbi Unira Malang membawakan tembang sholawat, tampilan tari oleh peserta didik Sekolah Inklusif MB3+ Sidotopo, sambutan sambutan, deklarasi menuju Kepanjen Kota Inklusif dan Ramah ABK, dilanjutkan dolanan bareng Kak Aziz Franklin juga Parenting “Mengenal ABK” oleh Otty Rovianty. (frb/red)

Comment here